Sesat Tanpa Sadar, Mungkinkah?


gmbr“Katakanlah hai Muhammad, “Maukah kami beritahu kalian tentang keadaan orang-orang yang paling merugi amalannya? Mereka adalah orang-orang yang sesat upaya mereka dalam kehidupan dunia, dan mereka menyangka bahwa mereka sedang berbuat dengan sebaik-baik amalan.” (Al-Kahfi: 104)

Firman Allah, “Dan mereka menyangka bahwa mereka sedang berbuat dengan sebaik-baik amalan.” Ibnul Jauzi berkata, “Maknanya mereka beramal (dalam agama ini) tidak berdasarkan ilmu. Tetapi hanya berdasarkan perkiraan saja, dan juga berdasarkan baik sangka kepada tokoh yang diikutinya dengan membabi buta. Padahal para tokoh mereka itu telah menyadari mana yang haq dan mana yang batil. Namun karena ambisi kepemimpinanya, maka sang tokoh lebih mengutamakan kebatilan dan meninggalkan kebenaran.” (“Zaadul Masiir fi ‘Ilmit Tafsiir” – Surat Al-Kahfi 104)

Menurut ‘Ali bin Abi Thaalib yang menjadi sasaran ayat ini adalah orang-orang Khawaarij yang beribadah kepada Allah hanya berdasarkan sangkaannya sehingga tersesat dalam kebid’ahan dan menjadi anjing-anjing neraka. (Tafsir Ath-Thabari)

‘Ali bin Abi Thaalib, Adh-Dhahhaak dan yang lainnya berkata, “Ayat ini mencakup kelompok Haruriyyah (Khawaarij) sebagaimana mencakupi orang-orang Yahuudi dan Nashaara dan selain mereka..” Baca lebih lanjut

Cukupkah Merujuk Kepada Al-Qur’an & Al-Hadits Saja?


biografiTanya: Assalamu’alaikum pak Ustadz, apakah sebagai seorang muslim cukup mengatakan “Rujukan kami Al-Qur’an dan Al-Hadits saja”? Syukron jazakumulloh khoir.

Jawab: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Kalimat seperti itu bisa diungkapkan jika saudara hidup di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam. Adapun sepeninggal beliau, dimana banyak bermunculan fitnah pemahaman dan penyimpangan aqidah, maka kalimat yang tepat adalah “Merujuk kepada Al-Qur’an was Sunnah dengan pemahaman Salafusshaalih”. Hal itu sebagaimana yang diwasiatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam:

“Barangsiapa yang masih hidup sepeninggalku, sungguh ia akan melihat perselisihan yang banyak (perpecahan). Maka wajib atas kalian (ketika melihat perselisihan itu) berpegang teguh dengan sunnahku (cara beragamaku) dan sunnah para shahabatku Al-Khulafaa’ur Raasyidiin yang mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi gerahammu.” (HR. Abu Daawud dan At-Tirmidzi dinilai hasan shahih oleh Syaikh Al-Albaani dalam “Shahihul Jaami'” 2546)

Maka yang dimaksud pemahaman Salafusshaalih adalah pemahaman para shahabat Nabi dalam menerjemahkan Al-Hadits juga penafsiran Rasulullah terhadap Al-Qur’an. Itulah jalur pemahaman yang telah pasti mendapat jaminan keselamatan dalam berislam dan memperjuangkan agama ini. Jadi sekalipun hadits itu shahih, namun tidak diterjemahkan sesuai dengan pemahaman Salafusshaalih, dapat dipastikan seseorang tak akan luput dari fitnah penyimpangan yang dinubuwwahkan dalam hadits di atas. Sebagaimana yang menimpa aliran Khawaarij, Qadariyyah, Syi’ah yang ditentang keras oleh para shahabat Nabi Baca lebih lanjut

Undian yang Halal


salamSyaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin, “Undian yang diperbolehkan jika si pembeli berada di antara dua kemungkinan, beruntung atau tidak dirugikan.” (Liqaa’ Al-Baabul Maftuuh)

Misal belanja di sebuah toko dengan minimal pembayaran Rp. 100.000,- seseorang akan mendapatkan satu kupon undian berhadiah. Dengan catatan pemilik toko tidak menaikkan harga barangnya. Maka jika si pembeli mendapatkan undian ia diuntungkan, dan jika tidak mendapatkannya ia tidak dirugikan. Inilah undian yang mubah. Sedangkan undian yang terlarang ialah undian yang mengandung unsur untung dan rugi atau untung-untungan. Baca lebih lanjut

Adakah Perbedaan Bid’ah Antara Ulama Syaafi’iyyah & Ulama Salafi Wahhaabi?


questionSebenarnya tidak ada perbedaan antara definisi bid’ah yang disebutkan oleh sebagian Ulama Syaafi’iyyah (semisal Al-Imam Al-‘Izz Ibnu Abdissalaam dan Al-Imam An-Nawawi) dengan definisi bid’ah yang diyakini Ulama Salafi “Wahhaabi” (semisal Ibnu Taimiyyah). Bid’ah yang diharamkan oleh sebagian Ulama Syaafi’iyyah adalah bid’ah dalam masalah aqidah dan ibadah. Seperti bid’ahnya madzhab Qadariyyah, Jabriyyah, Syi’ah, Khawaarij dan bid’ahnya shalat Ar-Raghaa’ib serta menari-nari dan menabuh rebana dalam masjid. Itulah hakikat bid’ah menurut Ulama Salafi. Sedangkan bid’ah yang wajib/sunnah/mubah yang diklaim oleh sebagian Ulama Syaafi’iyyah, tidaklah dianggap bid’ah (sesat) oleh Ulama Salafi.

Kendati demikian, sebagian orang yang berpenyakit hatinya di masa kini terus berusaha mempertentangkan Ulama Syaafi’iyyah dengan Ulama Salafi Wahhaabi. Padahal mereka semua berada di atas satu pijakan yang sama, Manhaj Salaf Ahlussunnah wal Jamaa’ah.

Tanya: Apa yang dimaksud dengan bid’ah yang wajib, sunnah dan mubah? Baca lebih lanjut

Sisi Lain Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab (Wahhaabi??)


waraqTelah menjadi sunnatullah yang berlaku di antara hamba-Nya bahwa perjuangan dakwah kepada agama Allah tidak akan selalu berjalan mulus lancar tanpa hambatan. Tetapi jalan dakwah ini diliputi oleh duri-duri dan kerikil tajam, bahkan marabahaya yang mengancam keselamatan jiwa seseorang. Sebab itulah orang yang berlaga di medan dakwah ini tidak cukup jika hanya mengandalkan ilmu yang ia miliki, namun ia juga harus melengkapinya dengan keberanian mental serta siap menghadapi segala tantangan yang datang dari para begundal dakwah yang ingin memadamkan cahaya kebenaran.

Dalam hal ini sebaik-baik teladan kaum muslimin adalah para Rasul ‘alaihimusshalatu wassalam. Mereka telah melewati berbagai macam gangguan dan perlawanan dari kaumnya sendiri. Allah ta’aala berfirman:

ولقد استهزئ برسل من قبلك فحاق بالذين سخروا منهم ما كانوا به يستهزئون

“Dan sungguh telah diperolok-olok beberapa Rasul sebelummu, maka turunlah kepada orang-orang yang menghinakan itu balasan dari olok-olokan mereka.” (Al-An’aam: 10)

ولقد كذبت رسل من قبلك فصبروا على ما كذبوا وأوذوا حتى أتاهم نصرنا

“Dan sesungguhnya telah didustakan pula Rasul-Rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan gangguan itu, sehingga dating pertolongan Kami kepada mereka.” (Al-An’aam: 34)

Demikian pula jalan yang akan dilalui oleh para Ulama dalam meniti jejak para Rasul tersebut. Mereka akan mengalami banyak gangguan, tekanan maupun kesulitan-kesulitan sesuai dengan kontribusi mereka Baca lebih lanjut

Al-Haq (Kebenaran) Punya Hak Untuk Ditolong


bangkitAl-Haq (kebenaran) punya hak untuk ditolong ketika dizalimi. Di masa-masa fitnah, sangat penting bagi seseorang untuk memahami standar kebenaran yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam:

“Barangsiapa yang masih hidup sepeninggalku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak (perpecahan umat). Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan “cara beragamaku dan cara beragama para Khulafaa’ur Raasyidin” yang mendapat petunjuk sepeninggalku, gigitlah ia (cara beragama itu) dengan gigi gerahammu.” (HR. Abu Daawud 4607, At-Tirmidzi 2676 beliau berkata ‘Hadits Hasan Shahih’, Syaikh Al-Albaani menilai shahih dalam ‘Shahiihul Jaami’ 2546)

Seheboh apapun pemberitaan tentang berbagai gerakan atau model perjuangan yang mengusung “label syariah”, akan tetapi tidak dapat dipastikan secara ilmiyyah dan amaliyyah merujuk kepada cara beragama Rasulullah dan para shahabatnya, maka ia adalah kebatilan lawan dari kebenaran.

Al-Jamaa’ah adalah kebenaran, sekalipun engkau menggigitnya sendirian Baca lebih lanjut

Melihat Allah di Akhirat (Syaikh ‘Abdurrazzaaq)


Syaikh ‘Abdurrazzaaq Al-Badr -hafidzhahullah- berkata, Allah berfirman:

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka orang-orang kafir pada hari kiamat benar-benar terhalang dari melihat Rabb mereka.” (Al-Muthaffifiin:15)

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata, “Ketika Allah menghalangi orang-orang kafir dari melihat-Nya karena Dia murka kepada mereka. Maka itu menunjukkan bahwa orang-orang beriman yang dicintai-Nya akan melihat-Nya karena Dia ridha kepada mereka.” (Faedah dari muhaadharah Syaikh ‘Abdurrazzaaq Al-Badr) Baca lebih lanjut

Syaikh Al-Albaani, Guru Ulama Ahli Hadits Abad Ini


salafyBeliau adalah Pembaharu Islam (mujadid) pada abad ini. Karya dan jasa-jasa beliau cukup banyak dan sangat membantu umat Islam terutama dalam menghidupkan kembali ilmu Hadits. Beliau telah berusaha memurnikan ajaran islam terutama dari hadits-hadits lemah dan palsu, dan meneliti derajat hadits.

Nasab (Silsilah Beliau)

Nama beliau adalah Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh Al-Albani. Dilahirkan pada tahun 1333 H di kota Ashqodar ibu kota Albania yang lampau. Beliau dibesarkan di tengah keluarga yang tak berpunya, lantaran kecintaan terhadap ilmu dan ahli ilmu. Ayah Al-Albani yaitu Al-Haj Nuh adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari`at di ibukota negara dinasti Utsmaniyah (kini Istambul), yang ketika Raja Ahmad Zagho naik tahta di Albania dan mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, maka Syeikh Nuh amat mengkhawatirkan dirinya dan diri keluarganya. Akhirnya beliau memutuskan untuk berhijrah ke Syam dalam rangka menyelamatkan agamanya dan karena takut terkena fitnah. Akhirnya beliau sekeluarga menuju Damaskus.

Setiba di Damaskus, Syeikh al-Albani kecil mulai aktif mempelajari bahasa arab. Beliau masuk sekolah pada madrasah yang dikelola oleh Jum`iyah al-Is`af al-Khairiyah. Beliau terus belajar di sekolah tersebut tersebut hingga kelas terakhir tingkat Ibtida`iyah. Selanjutnya beliau meneruskan belajarnya langsung kepada para Syeikh. Beliau mempelajari Al-Qur`an dari ayahnya sampai selesai, disamping itu mempelajari pula sebagian fiqih madzhab Hanafi dari ayahnya.

Syeikh al-Albani juga mempelajari keterampilan memperbaiki jam dari ayahnya sampai mahir betul, sehingga beliau menjadi seorang ahli yang mahsyur. Ketrampilan ini kemudian menjadi salah satu mata pencahariannya.

Pada umur 20 tahun, pemuda Al-Albani ini mulai mengkonsentrasi diri pada ilmu hadits lantaran terkesan dengan pembahasan-pembahasan yang ada dalam majalah Al-Manar. Kegiatan pertama di bidang ini ialah menyalin sebuah kitab berjudul “Al-Mughni `an Hamli Al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min al-Akhbar”. Sebuah kitab karya Al-Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang terdapat pada Ihya` Ulumuddin al-Ghazali Baca lebih lanjut

Batilnya Hadits, “Agama Adalah Akal”


tawadhuالدين هو العقل ومن لا دين له لا عقل له

“Agama itu adalah akal, barangsiapa yang tidak punya agama maka ia tidak punya akal.”

Syaikh Al-Albaani rahimahullah meletakkan hadits ini pada urutan pertama dalam kitab beliau “Silsilah Al-Ahaadits Ad-Dha’iifah wal Maudhuu’ah”. Dan beliau menyatakan bahwa hadits ini batil.

Al-Imam An-Nasaa’i mengeluarkan hadits ini dalam “Al-Kuna”. Ad-Daulaabi dalam “Al-Kuna wal Asma’ ” 2/104 meriwayatkannya dari Al-Imam An-Nasaa’i dengan sanad sebagai berikut, “Dari Abu Malik Bisyr bin Ghaalib bin Bisyr bin Ghaalib, dari Az-Zuhri, dari Mujammi’ bin Jaariyah dari pamannya (‘amm) secara marfu’ tanpa kalimat “Agama itu adalah akal”. Al-Imam An-Nasaa’i menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang batil munkar.

Syaikh Al-Albaani menyatakan bahwa rawi yang bernama Bisyr ini majhul (misterius) sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Azdi. Hal ini juga ditegaskan oleh Al-Imam Adz-Dzahabi dalam “Lisaanul Miizaan fi Naqdir Rijaal”, demikian pula Ibnu Hajar Al-‘Asqalaani dalam “Lisaanul Miizaan”.

Al-Harits bin Abi Usaamah dalam Musnadnya meriwayatkan dari Daawud Al-Muhabbir sebanyak tiga puluh tiga lebih hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan akal. Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaani rahimahullah mengomentarinya dengan mengatakan “Semua hadits-hadits tersebut palsu”. Demikian pula Al-Imam As-Suyuuthi dalam “Dzailul la’ali Mashnuu’ah fil Ahaadits Al-Maudhuu’ah” hal. 4-10. Al-‘Allamah Muhammad Thaahir Al-Fatani Al-Hindi dalam “Tadzkiratul Maudhuu’at” hal. 29 -30 juga menukil dari Al-Imam As-Suyuuthi Baca lebih lanjut

Metode Syaikh Muqbil Mendidik Puterinya


bukuPernah membaca buku “Nashihati lin Nisa”? Buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Nasehatku bagi Para Wanita ini ditulis oleh seorang aalimah (ulama wanita) dari negeri Yaman yang bernama Ummu Abdillah Al-Wadi’iyah. Beliau hafizhahallah adalah putri dari ulama ahlul hadits di masa kita, yaitu Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wad’i rahimahullah.

Ummu Abdillah adalah seorang aalimah yang memiliki banyak keutamaan. Menurut Al-Ustadz Muhammad Barmim dalam biografi Syaikh Muqbil, Ummu Abdillah mengajar di madrasah nisa’ (khusus wanita) dan memiliki beragam karya tulis ilmiyah. Di antaranya:

- Shahihul Musnad fis Syamail Muhammadiyah (tentang kesempurnaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dicetak dalam dua jilid)
– Jamius Shahih fi ilmi wa Fadhlihi (tentang keutamaan ilmu)
– Tahqiq kitab As-Sunnah Ibnu Abi Ashim
– Nasehati lin Nisa
– dan sekarang beliau masih mengerjakan Shahihul Musnad min Sirah Nabawiyah

Yang ingin saya angkat dalam artikel ini adalah bagaimana cara Syaikh mendidik putrinya sehingga tumbuh menjadi seorang aalimah. Tema ini mungkin jarang diangkat karena biasanya yang dipersiapkan sebagai seorang alim atau ulama adalah anak laki-laki saja

. Pernahkah kita bercita-cita putri kita menjadi seorang aalimah? Kalau memang ada keinginan tersebut, mungkin kita bisa bercermin terlebih dahulu dengan metodologi Asy-Syaikh dalam mendidik putrinya. Baca lebih lanjut