Sisi Lain Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab (Wahhaabi??)


waraqTelah menjadi sunnatullah yang berlaku di antara hamba-Nya bahwa perjuangan dakwah kepada agama Allah tidak akan selalu berjalan mulus lancar tanpa hambatan. Tetapi jalan dakwah ini diliputi oleh duri-duri dan kerikil tajam, bahkan marabahaya yang mengancam keselamatan jiwa seseorang. Sebab itulah orang yang berlaga di medan dakwah ini tidak cukup jika hanya mengandalkan ilmu yang ia miliki, namun ia juga harus melengkapinya dengan keberanian mental serta siap menghadapi segala tantangan yang datang dari para begundal dakwah yang ingin memadamkan cahaya kebenaran.

Dalam hal ini sebaik-baik teladan kaum muslimin adalah para Rasul ‘alaihimusshalatu wassalam. Mereka telah melewati berbagai macam gangguan dan perlawanan dari kaumnya sendiri. Allah ta’aala berfirman:

ولقد استهزئ برسل من قبلك فحاق بالذين سخروا منهم ما كانوا به يستهزئون

“Dan sungguh telah diperolok-olok beberapa Rasul sebelummu, maka turunlah kepada orang-orang yang menghinakan itu balasan dari olok-olokan mereka.” (Al-An’aam: 10)

ولقد كذبت رسل من قبلك فصبروا على ما كذبوا وأوذوا حتى أتاهم نصرنا

“Dan sesungguhnya telah didustakan pula Rasul-Rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan gangguan itu, sehingga dating pertolongan Kami kepada mereka.” (Al-An’aam: 34)

Demikian pula jalan yang akan dilalui oleh para Ulama dalam meniti jejak para Rasul tersebut. Mereka akan mengalami banyak gangguan, tekanan maupun kesulitan-kesulitan sesuai dengan kontribusi mereka Baca lebih lanjut

Al-Haq (Kebenaran) Punya Hak Untuk Ditolong


bangkitAl-Haq (kebenaran) punya hak untuk ditolong ketika dizalimi. Di masa-masa fitnah, sangat penting bagi seseorang untuk memahami standar kebenaran yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam:

“Barangsiapa yang masih hidup sepeninggalku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak (perpecahan umat). Maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan “cara beragamaku dan cara beragama para Khulafaa’ur Raasyidin” yang mendapat petunjuk sepeninggalku, gigitlah ia (cara beragama itu) dengan gigi gerahammu.” (HR. Abu Daawud 4607, At-Tirmidzi 2676 beliau berkata ‘Hadits Hasan Shahih’, Syaikh Al-Albaani menilai shahih dalam ‘Shahiihul Jaami’ 2546)

Seheboh apapun pemberitaan tentang berbagai gerakan atau model perjuangan yang mengusung “label syariah”, akan tetapi tidak dapat dipastikan secara ilmiyyah dan amaliyyah merujuk kepada cara beragama Rasulullah dan para shahabatnya, maka ia adalah kebatilan lawan dari kebenaran.

Al-Jamaa’ah adalah kebenaran, sekalipun engkau menggigitnya sendirian Baca lebih lanjut

Melihat Allah di Akhirat (Syaikh ‘Abdurrazzaaq)


Syaikh ‘Abdurrazzaaq Al-Badr -hafidzhahullah- berkata, Allah berfirman:

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka orang-orang kafir pada hari kiamat benar-benar terhalang dari melihat Rabb mereka.” (Al-Muthaffifiin:15)

Al-Imam Asy-Syafi’i berkata, “Ketika Allah menghalangi orang-orang kafir dari melihat-Nya karena Dia murka kepada mereka. Maka itu menunjukkan bahwa orang-orang beriman yang dicintai-Nya akan melihat-Nya karena Dia ridha kepada mereka.” (Faedah dari muhaadharah Syaikh ‘Abdurrazzaaq Al-Badr) Baca lebih lanjut

Syaikh Al-Albaani, Guru Ulama Ahli Hadits Abad Ini


salafyBeliau adalah Pembaharu Islam (mujadid) pada abad ini. Karya dan jasa-jasa beliau cukup banyak dan sangat membantu umat Islam terutama dalam menghidupkan kembali ilmu Hadits. Beliau telah berusaha memurnikan ajaran islam terutama dari hadits-hadits lemah dan palsu, dan meneliti derajat hadits.

Nasab (Silsilah Beliau)

Nama beliau adalah Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh Al-Albani. Dilahirkan pada tahun 1333 H di kota Ashqodar ibu kota Albania yang lampau. Beliau dibesarkan di tengah keluarga yang tak berpunya, lantaran kecintaan terhadap ilmu dan ahli ilmu. Ayah Al-Albani yaitu Al-Haj Nuh adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari`at di ibukota negara dinasti Utsmaniyah (kini Istambul), yang ketika Raja Ahmad Zagho naik tahta di Albania dan mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, maka Syeikh Nuh amat mengkhawatirkan dirinya dan diri keluarganya. Akhirnya beliau memutuskan untuk berhijrah ke Syam dalam rangka menyelamatkan agamanya dan karena takut terkena fitnah. Akhirnya beliau sekeluarga menuju Damaskus.

Setiba di Damaskus, Syeikh al-Albani kecil mulai aktif mempelajari bahasa arab. Beliau masuk sekolah pada madrasah yang dikelola oleh Jum`iyah al-Is`af al-Khairiyah. Beliau terus belajar di sekolah tersebut tersebut hingga kelas terakhir tingkat Ibtida`iyah. Selanjutnya beliau meneruskan belajarnya langsung kepada para Syeikh. Beliau mempelajari Al-Qur`an dari ayahnya sampai selesai, disamping itu mempelajari pula sebagian fiqih madzhab Hanafi dari ayahnya.

Syeikh al-Albani juga mempelajari keterampilan memperbaiki jam dari ayahnya sampai mahir betul, sehingga beliau menjadi seorang ahli yang mahsyur. Ketrampilan ini kemudian menjadi salah satu mata pencahariannya.

Pada umur 20 tahun, pemuda Al-Albani ini mulai mengkonsentrasi diri pada ilmu hadits lantaran terkesan dengan pembahasan-pembahasan yang ada dalam majalah Al-Manar. Kegiatan pertama di bidang ini ialah menyalin sebuah kitab berjudul “Al-Mughni `an Hamli Al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min al-Akhbar”. Sebuah kitab karya Al-Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang terdapat pada Ihya` Ulumuddin al-Ghazali Baca lebih lanjut

Batilnya Hadits, “Agama Adalah Akal”


tawadhuالدين هو العقل ومن لا دين له لا عقل له

“Agama itu adalah akal, barangsiapa yang tidak punya agama maka ia tidak punya akal.”

Syaikh Al-Albaani rahimahullah meletakkan hadits ini pada urutan pertama dalam kitab beliau “Silsilah Al-Ahaadits Ad-Dha’iifah wal Maudhuu’ah”. Dan beliau menyatakan bahwa hadits ini batil.

Al-Imam An-Nasaa’i mengeluarkan hadits ini dalam “Al-Kuna”. Ad-Daulaabi dalam “Al-Kuna wal Asma’ ” 2/104 meriwayatkannya dari Al-Imam An-Nasaa’i dengan sanad sebagai berikut, “Dari Abu Malik Bisyr bin Ghaalib bin Bisyr bin Ghaalib, dari Az-Zuhri, dari Mujammi’ bin Jaariyah dari pamannya (‘amm) secara marfu’ tanpa kalimat “Agama itu adalah akal”. Al-Imam An-Nasaa’i menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang batil munkar.

Syaikh Al-Albaani menyatakan bahwa rawi yang bernama Bisyr ini majhul (misterius) sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Azdi. Hal ini juga ditegaskan oleh Al-Imam Adz-Dzahabi dalam “Lisaanul Miizaan fi Naqdir Rijaal”, demikian pula Ibnu Hajar Al-‘Asqalaani dalam “Lisaanul Miizaan”.

Al-Harits bin Abi Usaamah dalam Musnadnya meriwayatkan dari Daawud Al-Muhabbir sebanyak tiga puluh tiga lebih hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan akal. Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaani rahimahullah mengomentarinya dengan mengatakan “Semua hadits-hadits tersebut palsu”. Demikian pula Al-Imam As-Suyuuthi dalam “Dzailul la’ali Mashnuu’ah fil Ahaadits Al-Maudhuu’ah” hal. 4-10. Al-‘Allamah Muhammad Thaahir Al-Fatani Al-Hindi dalam “Tadzkiratul Maudhuu’at” hal. 29 -30 juga menukil dari Al-Imam As-Suyuuthi Baca lebih lanjut

Metode Syaikh Muqbil Mendidik Puterinya


bukuPernah membaca buku “Nashihati lin Nisa”? Buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Nasehatku bagi Para Wanita ini ditulis oleh seorang aalimah (ulama wanita) dari negeri Yaman yang bernama Ummu Abdillah Al-Wadi’iyah. Beliau hafizhahallah adalah putri dari ulama ahlul hadits di masa kita, yaitu Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wad’i rahimahullah.

Ummu Abdillah adalah seorang aalimah yang memiliki banyak keutamaan. Menurut Al-Ustadz Muhammad Barmim dalam biografi Syaikh Muqbil, Ummu Abdillah mengajar di madrasah nisa’ (khusus wanita) dan memiliki beragam karya tulis ilmiyah. Di antaranya:

- Shahihul Musnad fis Syamail Muhammadiyah (tentang kesempurnaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dicetak dalam dua jilid)
– Jamius Shahih fi ilmi wa Fadhlihi (tentang keutamaan ilmu)
– Tahqiq kitab As-Sunnah Ibnu Abi Ashim
– Nasehati lin Nisa
– dan sekarang beliau masih mengerjakan Shahihul Musnad min Sirah Nabawiyah

Yang ingin saya angkat dalam artikel ini adalah bagaimana cara Syaikh mendidik putrinya sehingga tumbuh menjadi seorang aalimah. Tema ini mungkin jarang diangkat karena biasanya yang dipersiapkan sebagai seorang alim atau ulama adalah anak laki-laki saja

. Pernahkah kita bercita-cita putri kita menjadi seorang aalimah? Kalau memang ada keinginan tersebut, mungkin kita bisa bercermin terlebih dahulu dengan metodologi Asy-Syaikh dalam mendidik putrinya. Baca lebih lanjut

Berkenalan Dengan Syaikh Muqbil Al-Waadi’i (Ulama Ahli Hadits dari Negeri Yaman)


flowBeliau adalah Syaikh Al-‘Allaamah Al-Muhaddits Abu Abdirrahman Muqbil bin Haadi bin Qayidah Al-Hamdani Al-Wadi’i Al-Khilali -rahimahullah-.

Kelahirannya

Beliau dilahirkan pada tahun 1352 H di Dammaaj Yaman, di sebuah lingkungan Zaidiyyah (Salah satu sekte Syi’ah) yang bercirikan tasawwuf, mu’tazilah, dan berbagai bid’ah lainnya.

Pertumbuhan Ilmiahnya

Beliau memulai pelajarannya di Maktab di sebuah desa yang bernama ‘Al-Wathan’ Dammaaj Yaman, beberapa lama kemudian berhenti karena tidak ada yang membiayainya untuu belajar. Kemudian beliau safar ke Riyaadh Saudi Arabia dan tinggal di sana sekitar satu bulan setengah. Ketika cuaca Riyaadh berubah maka beliau berangkat ke Makkah. Beliau meminta petunjuk kepada sebagian khaathib mengenai kitab-kitab yang bermanfaat yang akan beliau beli, maka beliau dinasihati agar membeli kitab Shahih Al-Bukhari, Buluughul Maram, Riyaadhusshaalihin, dan Fat-hul Majiid.

Beliau bekerja sebagai penjaga sebuah gedung di Hajun sambil menelaah kitab-kitab tersebut. Beliau sangat tertarik dengan kandungan kitab-kitab tersebut karena amalan manusia di negerinya sangat bertolak belakang dengan yang apa ada dalam kitab-kitab tersebut.

Setelah beberapa lama beliau pulang ke negerinya, Yaman, dan mulai mengingkari kemungkaran-kemungkaran yang dilakukan kaumnya. Seperti menyembelih untuk selain Allah, meminta kepada orang-orang yang sudah mati, membangun kuburan, dan kesyirikan-kesyirikan Baca lebih lanjut

Kejarlah Akhirat Sebelum Terlambat..


akhiratRasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda:

من كانت الدنيا همه فرق الله عليه أمره و جعل فقره بين عينيه و لم يأته من الدنيا إلا ما كتب له ، و من كانت الآخرة نيته جمع الله له أمره و جعل غناه في قلبه و أتته الدنيا و هي راغمة

Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya, niscaya Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kefaqiran membayangi kedua matanya, dan dunia tidaklah datang kepadanya melainkan apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan hidupnya, maka Allah akan mengumpulkan segala urusannya dan menjadikan kekayaan memenuhi hatinya, dan dunia mendatanginya dalam keadaan hina.

Takhrij dan Tahqiq:

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Maajah dalam Sunan beliau 2/1375, dengan sanad berikut, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bassyaar, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Umar bin Sulaiman ia berkata, aku mendengar ‘Abdurrahman bin Abaan bin ‘Utsmaan bin ‘Affaan dari ayahnya (yakni Abaan bin ‘Utsmaan) dari Zaid bin Tsaabit secara marfuu’.

Al-‘Allaamah Al-Muhaddits Asy-Syaikh Muqbil bin Haadi Al-Waadi’i -rahmatullah ‘alaih- menerangkan, “Bahwa hadits ini shahih dan para perawinya (rijaalnya) adalah para perawi yang dipakai oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya, selain ‘Umar bin Sulaimaan dan ‘Abdurrahman bin Abaan. Namun Ibnu Ma’iin dan An-Nasaa’i mentsiqahkan ‘Umar bin Sulaimaan, dan An-Nasaa’i juga mentsiqahkan ‘Abdurrahman bin Abaan, sebagaimana dalam Tahdzibut Tahdzib Baca lebih lanjut

Jilbabmu Belum Tentu Syar’i (Mengindahkan Syari’ah)


ilmuKata jilbab bila ditinjau dari sudut bahasa mengandung beberapa makna di antaranya:

1. Qamiish yakni pakaian lebar dan panjang sejenis jubah.
2. Pakaian yang lebih luas dari khimar (kerudung penutup kepala) selain rida’ (selendang) yang berfungsi menutupi kepala dan dada wanita.
3. Pakaian lebar selain milhafah (selimut) yang dikenakan oleh seorang wanita.
4. Milhafah (selimut) [Lisaanul ‘Arab, Ibnu Mandzur 2/162]

Sedangkan dalam pengertian syari’ah sebagaimana yang diterangkan oleh para mufassirin di antaranya Al-‘Allaamah Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di rahimahullah, jilbaab adalah kain yang dikenakan di atas pakaian (milhafah, khimar, ridaa’ dan semisalnya) yang berfungsi menutupi wajah dan dada mereka para wanita. [Taisiirul Kariimirrahman fi Tafsiir Kalaamil Mannaan - Tafsir Surat Al-Ahzaab ayat 59]

Demikian sesungguhnya pengertian jilbab dalam terminologi syari’ah. Maka tidak dibenarkan jika seorang muslimah mencukupkan diri mengenakan khimar (kerudung mini atau jilbab gaul) sebagai pakaian utama tanpa melapisinya dengan jilbab

. Karena pengertian jilbab itu sendiri ialah kain yang ukurannya lebih panjang dari khimar yang dilabuhkan di atasnya.

SYARAT-SYARAT BUSANA MUSLIMAH:

1. Menutup Seluruh Tubuh

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mu’min, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Baca lebih lanjut

Apakah Harus Melepas Cadar Ketika Shalat?


nasehatSaya pernah mendengar akhwat yang bercadar kalau shalat harus melepas cadarnya baik shalat di tempat khusus atau umum? Benarkah demikian Ustadz?

Jawab: Ada rincian hukum dalam masalah ini. Apabila seorang wanita shalat di rumahnya atau di tempat khusus yang jauh dari laki-laki yang bukan mahramnya, maka disyariatkan ia membuka cadarnya dan sarung tangannya. Sama halnya ketika ihram, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam:

“Janganlah wanita yang ihram memakai cadar dan sarung tangan.” (HR. Al-Bukhari)

Hadits di atas menunjukkan kebiasaan para shahabiyyah memakai cadar dan sarung tangan, sebagaimana yang dikatakan oleh para Ulama.

Akan tetapi, jika wanita shalat di tempat umum atau terbuka sehingga laki-laki yang bukan mahram banyak berlalu-lalang maka disyariatkan untuk tetap memakai cadarnya dan sarung tangannya. Hal itu sebagaimana perbuatan ‘Aisyah Ummul Mu’minin ketika thawaf beliau tetap menutup wajahnya dengan cadar jika berpapasan dengan laki-laki ajnabi (bukan mahram) sebagaimana yang diriwayatkan Al-Bukhari dalam shahihnya Baca lebih lanjut