Inilah Perbedaan Saudi Arabia (Yang Diklaim Antek Amerika) Dengan Iran (Yang Mengklaim Anti Amerika)


rantaiInilah Perbedaan Saudi Arabia (yang diklaim antek Amerika) dengan Iran (yang mengklaim anti Amerika)

1. Saudi Arabia konstitusi hukumnya mengacu pada Al-Qur’an was Sunnah dengan pemahaman Salafusshaalih. Sedangkan Republik Iran mengadopsi dari thaghut Demokratisme.

2. Saudi Arabia menentang sistem kufur Demokrasi ketika dipaksakan oleh Amerika. Sedangkan Iran berdamai dengan Demokrasi.

3. Saudi Arabia mengharamkan orang-orang kafir menjabat dalam pemerintahannya. Sedangkan Iran melibatkan Yahuudi dalam parlemen dan orang-orang kafir yang lain.

4. Saudi Arabia melarang pembangunan ibadah orang-orang kafir. Sedangkan di Iran Sinagog Yahuudi ada dimana-mana, bahkan masjid-masjid umat Islam (sebagai basis Ahlussunnah) dihancurkan.

5. Saudi Arabia mewajibkan rakyatnya shalat lima waktu berjamaah di masjid (bagi pria) sebagaimana yang ditetapkan oleh syariah. Sedangkan di Iran shalat jum’at saja hukumnya tidak wajib Baca lebih lanjut

Hukum Menerima Makanan Perayaan Orang Kafir


kriAssalamu’alaykum pak Ustadz, sebentar lagi ada perayaan natal, bagaimana hukumnya menerima hadiah atau makanan dari orang Nashrani pada hari raya mereka? Jazakumullohu khoyr.

Jawab: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Tidak syak lagi perayaan natal adalah perayaan kekufuran. Kaum Muslimin dilarang mengikuti perayaan mereka, membantu penyelenggaraannya atau mengucapkan selamat sekalipun beralasan basa-basi. Larangan tersebut berdasarkan dalil-dalil yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an was Sunnah serta ijmaa’ (kesepakatan) para Ulama.

Adapun menerima hadiah atau makanan dari orang kafir pada hari raya mereka maka dalam masalah ini para Ulama berselisih pendapat. Di antara mereka ada yang membolehkan, dan sebagian yang lainnya melarang. Namun bila ditinjau dari sisi pendalilan secara ilmiyyah, maka yang lebih raajih (kuat) adalah pendapat Ulama yang membolehkan.

Makanan dari acara yang haram namun halal secara dzatnya hukumnya boleh dimakan karena telah berpindah hukum. Sebagaimana dalam hadits Barirah (riwayat Al-Bukhari dan Muslim) dimana ia yang mendapatkan makanan shadaqah namun setelah diberikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam berpindah hukum menjadi hadiah Baca lebih lanjut

Waktu Mustajab di Hari Jum’at


tanyaDari Jaabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda:

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً ، لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

“Dalam 12 jam di hari Jum’at ada satu waktu yang bila seorang muslim memohon sesuatu kepada Allah pasti akan dikabulkan. Carilah waktu itu setelah ‘ashar.” (HR. Abu Daawud 1048, An-Nasaa’i 1389, Ibnu Hajar dalam “Al-Fath” menghasankan sanadnya dan Syaikh Al-Albaani dalam “Shahih Sunan Abi Daawud menilai shahih hadits ini)

Waktu ini yang dipilih oleh jumhuur Ulama, di antaranya Abdullah bin Sallaam, Abu Hurairah, Imam Ahmad, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahmatullah ‘alaih- dalam “Zaadul Ma’aad” Baca lebih lanjut

Doa Sebelum Berjimaa’ (Senggama)


kapsulRasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam menuntunkan doa sebelum berjimaa':

بِسْمِ اللهِ اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

“Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari syaithaan dan jauhkanlah syaithaan dari anak yang bakal Engkau karuniakan kepada kami.” (HR. Ahmad 1/216, Al-Bukhari 141, Muslim 1434, Abu Daawud 2161, At-Tirmidzi 1092, At-Thayaalisi dalam Musnadnya 2705, Abdurrazzaaq 10465, Al-Baghawi dalam Syarhussunnah 5/119)

Doa tersebut dilafalkan oleh suami sebelum berjimaa’. Akan tetapi isteri boleh melafalkannya, karena hukum asalnya tidak ada pengkhususan. (Lajnah Daa’imah 19/356 Ketua Syaikh bin Baaz) Baca lebih lanjut

Demostrasi, Jalannya Salafutthaalih (Pendahulu yang Keji)


salaf2Kisah ‘Umar dan sebagian shahabat Nabi yang berdemonstrasi setelah ‘Umar masuk Islam diriwayatkan oleh Abu Nu’aim Al-Ashfahaani dalam “Hilyatul Awliyaa'” 1/40. Kisah ini dinilai baathil oleh para Ulama karena dalam sanadnya ada rawi yang bernama Is-haaq bin Abdillah bin Abi Farwah. Menurut Yahya bin Ma’iin, ia adalah seorang pendusta besar, dan para Ulama meninggalkan riwayatnya sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam “Ad-Dhu’afaa Al-Kabiir”, Ibnu Abi Haatim dalam “Al-Jarh wat Ta’diil”, Ad-Daaruquthni dalam “Ad-Dhu’afaa’ wal Matruukiin”.

Dalam sejarah Islam, bid’ah demonstrasi (mengerahkan massa turun ke jalan) pertama kali terjadi di masa ‘Utsmaan bin ‘Affaan radhiyallahu ‘anhu. Bid’ah ini dimotori oleh Abdullah bin Sabaa’ seorang Yahuudi yang pura-pura masuk Islam untuk menggulingkan pemerintahan ‘Utsmaan hingga berujung pada pembunuhan. Dan faktanya tidak ada seorangpun dari shahabat Nabi yang terlibat dalam aksi bid’ah tersebut. Maka demonstrasi bukanlah jalan yang ditempuh oleh Salafusshaalih yaitu Rasulullah dan para shahabatnya dalam beramar ma’ruuf nahi munkar.

Anehnya sebagian tokoh di zaman ini yang ghuluw dengan fiqhul waaqi’ (fiqh realitas) memfatwakan demonstrasi adalah bentuk jihad yang syar’i. Ini adalah fatwa baathil yang berasal dari pemahaman Baca lebih lanjut

Dosa Sosial Media


stopDari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda:

كل امتي معافی الا المجاهرين

“Semua umatku akan diampuni kecuali orang yang melakukan kemaksiatan secara terang-terangan. (HR Al-Bukhari 6069 dan Muslim 2990)

Al-Imam Al-Munaawi berkata, “Mu’aafa” adalah isim maf’uul dari kata “Al-‘Aafiyah” yang bermakna pemaafan atau keselamatan dari Allah, kecuali orang yang bermaksiat kepada-Nya secara demonstratif. Al-Mulaa ‘Ali Qaari menukil keterangan At-Thayyibi, “Yang nampak maknanya semua umatku tidak dipergunjingkan (ghibah), kecuali mereka yang terang-terangan dalam kemaksiatan Baca lebih lanjut

Hukum Wanita Mengikuti Pelatihan Militer


jihadTanya: Ana dapat sebuah hadits yang mengisahkan tentang perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat di perang Uhud. Dalam hadits itu diceritakan bahwa ‘Aisyah dan Ummu Sulaim ikut terlibat dalam perjuangan jihad kaum muslimin. Mereka berdua turun ke medan perang dengan memanggul wadah air minum untuk diberikan kepada para sahabat nabi yang kehausan. Pertanyaannya apakah hadits ini bisa menjadi dalil bahwa wanita muslimah boleh menjadi tentara dan ikut pelatihan jihad misalnya?

Jawab: Hadits tersebut shahih diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam shahihnya. Akan tetapi hal itu tidaklah memberi pengertian bahwa wanita boleh menjadi tentara dan ikut pelatihan jihad maupun militer.

Ummu Abdillah Al-Waadi’iyyah (puteri Syaikh Muqbil Al-Waadi’i) mengulas dalam kitabnya “Nashihati lin Nisaa” halaman 125, bahwa riwayat tersebut sama sekali tidak menunjukkan bolehnya wanita menjadi tentara. Akan tetapi jika memang pelayanannya dibutuhkan dalam peperangan, atau untuk membela dirinya maka tidaklah mengapa.

Adapun seorang wanita menjadi tentara seperti yang dilakukan oleh perkumpulan kaum wanita yang menjadi tentara di Shan’a (Yaman) dan negeri-negeri lainnya, demi Allah ini adalah bentuk penghinaan dan merendahkan kaum wanita Baca lebih lanjut

Selamat Natal = Selamat Sembah Salib = Selamat atas Kekufuran


latahtafilAl-‘Allaamah Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menerangkan:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه

“Adapun tahni’ah (ungkapan selamat) atas syi’ar-syi’ar orang kafir yang menjadi kekhususan mereka hukumnya haram dengan kesepakatan para Ulama (tidak ada perselisihan pendapat). Seperti mengucapkan selamat atas hari-hari raya mereka atau puasa mereka. Umpamanya dengan mengatakan “Hari yang berkah atasmu” atau “Selamat hari raya” atau yang semisalnya. Maka sekalipun orang yang mengucapkannya itu selamat dari kekufuran, namun sungguh ia telah terjerumus dalam perbuatan yang diharamkan. Dan ini sama halnya dengan memberikan ucapan selamat terhadap sujudnya mereka kepada salib, bahkan hal tersebut lebih besar lagi dosanya di sisi Allah dan lebih dahsyat kemurkaan-Nya dari memberikan ucapan selamat atas perbuatan meminum khamr, membunuh orang, atau berzina dan yang semisalnya.” (Ahkaamu Ahlidz Dzimmah 1/205)

Kerancuan Memahami Ayat

Sebagian orang yang berpenyakit hatinya terus berusaha mencari-cari cara bagaimana mengesankan yang halal itu haram, dan yang haram itu halal, yang tauhid itu syirik dan yang syirik itu tauhid Baca lebih lanjut

Hemat Air Wudhu


thaharhSaat hendak shalat berjama’ah di masjid, terkadang kita melihat orang berwudhu’ dengan air kran yang berlimpah, bahkan terbuang sia-sia tanpa ia pedulikan. Hal itu jelas pemborosan dan tergolong sikap berlebih-lebihan yang menyelisihi amalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam. Anas bin Maalik (pelayan Nabi) radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan:

كان النبي صلى الله عليه وسلم يتوضأ بالمد

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam berwudhu’ dengan satu mudd (kadar dua tapak tangan terbuka)….” (HR. Al-Bukhari 194 & Muslim 490 dan ini lafal Muslim, Imam Ahmad dalam Musnad-nya dari ’Aisyah 23750, 23751, 23866, Abu Daawud dalam Sunan-nya dari ‘Aisyah 84 & dari Jaabir 85, Ibnu Maajah dalam Sunan-nya dari Safiinah mawla Rasulillah 263 & dari Jaabir 265)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam juga melarang para shahabatnya dari berlebih-lebihan menggunakan air saat berwudhu’. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam melewati Sa’ad yang sedang berwudhu’ Baca lebih lanjut

Fatwa Ulama Kibaar Terkait Sayyid Quthb (Syaikh bin Baaz, Syaikh Al-Albaani, Syaikh Al-‘Utsaimin, Syaikh Muqbil, Syaikh Al-‘Abbaad)


stopSyaikh Abdul ‘Aziiz bin Baaz ditanya, “Sayyid Quthb berkata dalam kitabnya “Fii Zhilaalil Qur’an” ketika ia menafsirkan firman Allah “Ar-Rahmaanu ‘ala Arsyistawaa”. Adapun “Al-Istiwaa ‘ala ‘Arsy” maka kami mengatakan, “Sesungguhnya istiwa itu sebagai kinaayah (kiasan) tentang penguasaan Allah atas makhluk-Nya.” (Azh-Zhilaal 4/2328, 6/3408)

هذا كله كلام فاسدٌ ، هذا معناه الهيمنة، ما أثبت الاستواء : معناه إنكار الاستواء المعروف، وهو العلو على العرش، وهذا باطلٌ يدل على أنه مسكين ضايع في التفسير

Syaikh bin Baaz menjawab, “Semua ini adalah perkataan yang rusak. Ia memaksudkan penguasaan yang berarti ia tidak menetapkan sifat Al-‘Istiwaa’. Dengan kata lain Sayyid Quthb mengingkari sifat Al-Istiwaa’, padahal makna Al-Istiwaa’ telah ma’ruf, yaitu Dia Allah “Al-‘Uluw ‘alal ‘Arsy” (Tinggi di atas Arsy-Nya). Maka penafsiran Sayyid Quthb ini baathil. Dan ini menunjukkan dia sesungguhnya miskin dalam ilmu tasfir.” (Tasjilat Minhaajussunnah Riyaadh 1413 Hijriah)

Syaikh Al-Albaani berkata:

كل ما رددته على سيد قطب حق وصواب، ومنه يتبين لكل قارئ مسلم على شيء من الثقافة الإسلامية أن سيد قطب لم يكن على معرفة بالإسلام بأصوله وفروعه. فجزاك الله خيراً أيها الأخ الربيع على قيامك بواجب البيان والكشف عن جهله وانحرافه عن الإسلام

“Semua bantahan Syaikh Rabii’ Al-Madkhali atas Sayyid Quthb adalah benar dan tepat. Beliau mengetengahkan kepada para pembaca tentang “tsaqafah islamiyyah” (wawasan keislaman) yakni Sayyid Quthb bukanlah orang yang mengetahui Islam baik secara Ushul maupun Furu’. Jazaakallahu kher kepada Al-Akh Rabii’ atas upayanya menegakkan kewajiban Baca lebih lanjut