Dakwah Tauhid Sebab Turunnya Rahmat dan Pertolongan Allah, Penghalang Adzab, Sebab Keamanan dan Tegaknya Khilafah di Muka Bumi


la-ilaha-illallahDakwah Salafiyyah memulai perubahan dengan apa yang dimulai oleh para Salafusshaalih dalam merubahnya. Dimana perubahan itu dimulai dari diri-diri mereka sendiri, dengan mengupayakan “At-Tashfiyah” atau pemurnian aqidah dari kotoran-kotoran syirik, bid’ah dan khurafat jahiliyyah, serta “At-Tarbiyah” atau pembekalan diri dengan ilmu tauhid, aqidah dan sunnah. Maka perubahan yang dibangun di atas manhaj Salafusshaalih inilah yang sesungguhnya menjadi sebab kemenangan yang diberkahi oleh Allah ta’aala, meskipun membutuhkan kesabaran dan waktu yang cukup panjang. Allah ta’aala berfirman:

وعد الله الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الأرض كما استخلف الذين من قبلهم وليمكنن لهم دينهم الذي ارتضى لهم وليبدلنهم من بعد خوفهم أمنا يعبدونني لا يشركون بي شيئا ومن كفر بعد ذلك فأولئك هم الفاسقون

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang beramal shalih, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Allah memberi kekuasaan pada orang-orang sebelum mereka. Dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah keadaan mereka, setelah mereka dalam keadaan ketakutan menjadi aman tentram, mereka tetap mentauhidkan Aku dan tidak berbuat kesyirikan sedikitpun. Dan barangsiapa tetap kufur setelah itu, maka mereka adalah orang-orang yang fasik.” [An-Nuur: 55]

Demikian janji Allah atas orang-orang yang beriman dan beramal shalih, tatkala mereka berupaya mentauhidkan Allah dan berlepas diri dari kesyirikan, maka Allah akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana orang-orang yang telah diberi kekuasaan oleh Allah pada umat-umat terdahulu Baca lebih lanjut

Pesan Syaikh Rabii’ Al-Madkhali & Syaikh Shaalih As-Suhaimi Terkait Palestina


salafySyaikh Rabii’ bin Haadi Al-Madkhali -hafidzhahullah-, “Palestina tidak akan memperoleh kemerdekaan, kecuali dengan cara ‘Umar bin Al-Khatthaab memerdekakannya.” [Sahaab As-Salafiyyah]

Syaikh Shaalih As-Suhaimi -hafidzhahullah-, “Wahai saudara-saudaraku jangan kalian lupa mendoakan saudara-saudara kalian di Palestin, di Suuriah, Iraaq dan dimanapun mereka berada… Kemarin di Ghazzah (Gaza) ada yang berteriak beristighaatsah “Wahai Shalaahuddiin..!” Ini jelas perbuatan syirik.

Bagaimana mungkin engkau berteriak memanggil “Wahai Shalaahuddiin!” padahal ia telah wafat! Semoga Allah merahmatinya…. Bagaimana engkau mengharapkan kemenangan, sementara engkau berdoa kepada selain Allah, berdoalah kepada Rabb-mu semata. Ucapkanlah, “Yaa Allaah, Yaa hayyu yaa qayyuum, Yaa dzal jalaali wal ikraam”, jangan engkau ucapkan “Yaa Shalaahaddiin…”! Barangsiapa yang beristighaatsah kepada selain Allah sungguh dia telah berlaku syirik.” [Sahaab As-Salafiyyah] Baca lebih lanjut

Sebagian Sunnah yang Ditinggalkan Saat ‘Ied


biografiBertakbir Ketika Keluar Rumah Menuju Lapangan (Sunnah yang Ditinggalkan)

Dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, bahwa beliau bertakbir ketika keluar di pagi hari menuju tanah lapang pada hari ‘Ied [Riwayat Al-Firyaabi dalam "Ahkaamul ‘Iedain" hal. 110 no. 39 sanadnya shahih]

Wanita dianjurkan bertakbir jika aman dari fitnah, namun tanpa mengeraskan suaranya seperti kaum pria, sebagaimana riwayat Ummu Athiyyah. [Fat-hul Baari 9/33]

Wanita Haidh Keluar Menuju Lapangan Shalat ‘Ied (Sunnah Yang Ditinggalkan)

Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam memerintahkan kami di hari ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adh-ha untuk mengeluarkan para gadis, wanita haidh dan para wanita pingitan (menuju lapangan shalat ‘ied). Adapun wanita haid mereka menjauhi shalat, dan mereka menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslimin.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab?” Maka beliau berkata, “Hendaklah saudaranya meminjamkan jilbab kepadanya.” [HR. Al-Bukhari & Muslim]

Niatkan Saling Berkunjung Karena Allah

Allah berfirman, “Cinta-Ku berhak bagi orang-orang yang saling mencintai karena Aku, cinta-Ku berhak bagi orang-orang yang saling tolong-menolong karena Aku, dan cinta-Ku berhak bagi orang-orang yang saling berkunjung karena Aku.” [HR. Ahmad dalam Musnadnya] Baca lebih lanjut

Hukum Berdoa Kepada Para Nabi, Malaikat & Orang-Orang Shalih


ikhlasBerdoa kepada para Nabi, para malaikat, atau berdoa kepada orang-orang shaalih yang telah wafat di sisi kuburnya dengan alasan untuk meminta kedekatan kepada Allah dan mendapatkan syafa’at adalah kesyirikan. Doa adalah ibadah, dan ibadah hanya ditujukan kepada Allah semata dan tidak boleh dipalingkan kepada selain-Nya.

Perhatikan alasan kaum musyrikin dalam ayat ini ketika mereka berdoa kepada pihak-pihak yang mereka berhalakan:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى الله زلفی

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (beralasan), “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” [Az-Zumar: 3] Baca lebih lanjut

LDII Mengkafirkan Kaum Muslimin Di Luar Jama’ahnya


brain“Dan dalam nasehat supaya ditekankan bahwa bagaimanapun juga cantiknya dan gantengnya orang-orang di luar jama’ah, mereka itu adalah orang kafir, musuh Allah, musuh orang iman, calon ahli neraka, yang tidak boleh dikasihi,” [Nukilan dari Makalah LDII "Pentingnya Pembinaan Generasi Muda Jama’ah" hal. 8]

Kaum muslimin yang tidak berbaiat kepada pimpinan kelompok LDII masih dipertanyakan keislamannya dan kesucian anggota tubuhnya.

Ini pemahaman sesat kelompok LDII yang mengadopsi dari pemikiran Khawaarij. Dan baiat dalam syariah sesungguhnya hanya ditujukan kepada Ulil Amri atau panglima perang, bukan kepada Ustadz, Amir kelompok, organisasi dan semisalnya. Dahulu di zaman Soeharto gerakan ini dikenal Islam Jama’ah, setelah dilarang berganti nama menjadi LDII.

LDII juga mewajibkan zakat sebanyak 10% dari penghasilan setiap jama’ahnya. Maka tak ayal jika dana yang disetorkan kepada pimpinan kelompok bisa mencapai trilyunan rupiah. Ini adalah zakat yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam dan para shahabatnya, sama seperti zakat profesi yang digadang-gadang oleh sebagian orang. Baca lebih lanjut

Bolehkah Mengeluarkan Zakat Fitrah Dengan Uang??


ilmuTanya: Ustadz bolehkah mengeluarkan zakat fitrah dengan uang? Karena melihat kebutuhan fakir miskin di sekitar kami bukan hanya makanan tapi juga membutuhkan uang. Dan kapan waktu yang afdhal mengeluarkannya? Jazakumullah khaer.

Jawab: Para Ulama berselisih pendapat dalam masalah ini, jumhuur/mayoritas Ulama mengatakan bahwa mengeluarkan zakat fitrah harus dengan makanan pokok dan tidak boleh dengan uang. Sedangkan Abu Haniifah dan sebagian Ulama yang lainnya mengatakan boleh membayar zakat fitah dengan uang. Pendapat yang raajih/kuat adalah pendapat jumhuur. Sebab hal itu yang mencocoki praktek Rasulullah dan para shahabat beliau.

Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam juga sudah ada uang dan ada faqir miskin. Namun beliau dan para shahabatnya mengeluarkan zakat dengan makanan pokok. Dan tujuan zakat fitrah sesungguhnya untuk memberi makan faqir miskin sehingga mereka juga bisa berhari raya sebagaimana kaum muslimin yang lainnya.

Dari Ibnu ‘Abbaas radhiyallahu ‘anhuma, “Rasulullah mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan ucapan yang kotor dan untuk memberi makanan bagi orang-orang miskin.” [HR. Abu Daawud no. 1609, Ibnu Maajah no. 1827 Syaikh Al-Albaani menilai hasan dalam "Shahih Sunan Abi Daawud"] Baca lebih lanjut

Benarkah “Lailatul Qadr” telah Diangkat??


lisan22Abdullah bin Yahnus berkata, Aku katakan kepada Abu Hurairah:

زعموا أن ليلة القدر رُفعت! قال: كذب من قال ذلك

“Bahwa mereka menyangka lailatul qadr itu sudah diangkat (tidak akan terjadi lagi).” Maka Abu Hurairah menyangkal, “Telah dusta orang yang mengatakan hal itu.” [Riwayat 'Abdurrazzaaq dalam "Mushannaf" beliau 4/252]

Al-Imam Al-Mutawalli Asy-Syaafi’i menghikayatkan bahwa omongan seperti itu (lailatul qadr tidak akan terjadi lagi) berasal dari orang-orang Syi’ah Raafidhah. [At-Tatimmah]

Al-Faakihaani menghikayatkan omongan itu berasal dari Hanafiyyah. [Syarhul 'Umdah]

Faidah dari “Min Akhthaa’in Naas Hawla Lailatil Qadr”

Baca lebih lanjut

Mengencangkan Sarung & Menghidupkan 10 Malam Terakhir


salam‘Aisyah Ummul Mu’minin radhiyallahu ‘anha berkata:

كان النبي إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam apabila masuk sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan beliau mengencangkan ikatan sarungnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan isterinya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Al-Haafidzh Ibnu Hajar Al-‘Asqalaani, “menghidupkan malamnya” yakni begadang untuk sibuk melakukan ketaatan. Al-Imam An-Nawawi, “Menghabiskan waktu malam untuk shalat dan amalan ibadah lainnya.” Al-‘Adzhim Abaadi, “Menyibukkan diri dengan shalat, dzikir dan membaca Al-Qur’an.”

Baca lebih lanjut

Kemesraan Salaf Di Siang Hari Bulan Ramadhan


2‘Umar bin Al-Khatthaab pernah bangkit syahwatnya lalu mencium isterinya, saat sedang puasa. Maka ia datang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam tentang hal besar yang dilakukannya maka Rasulullah tidak melarangnya. [Lihat Musnad Imam Ahmad 1/136, 354, 132, 350. "Sunanul Kubra" Al-Imam Al-Baihaqi 4/218]

Ibnu Hazm Al-Andaluusi -rahmatullah ‘alaih- meriwayatkan dari Yahya bin Sa’iid Al-Qatthaan dari Hubaib bin Syihaab dari bapaknya, bahwa beliau menyatakan, “Aku bertanya kepada Abu Hurairah tentang seorang pria yang mendekat kepada isterinya saat puasa? Maka beliau menjawab, “Aku melumati kedua bibir isteriku dalam keadaan aku sedang berpuasa.”

Dan juga dari jalan yang shahih riwayat Sa’ad bin Abi Waqqaash bahwa beliau ditanya:

سئل أتقبل و أنت صائم ؟ قال : نعم ، و أقبض على متاعها

“Apakah engkau mencium isterimu saat berpuasa? Beliau menjawab, “Ya aku menciumi isteriku, dan bahkan aku meremas kemaluannya.” [Al-Muhalla 6/212 tahqiq Syaikh Ahmad Syaakir]

‘Aisyah ummul mu’minin membimbing keponakannya yaitu Abdullah bin Abdurrahman bin Abi Bakr As-Shiddiq untuk mencium dan bermesraan dengan isterinya yakni ‘Aisyah bintu Thalhah (wanita tercantik di masanya) saat sedang berpuasa. [Lihat "Al-Muwattha'" Imam Maalik]

Baca lebih lanjut

Pasutri Bermesraan di Siang Hari Bulan Ramadhan Hingga Keluar Mani, Apakah Batal Puasanya??


pinkTanya: Assalamu’alaikum ustaz apakah bermesraan dengan isteri atau sebaliknya saat puasa hingga keluar mani batal puasanya? Dalam hadits disebutkan, “Dia meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya karena Aku, dan puasanya itu untuk-Ku.” (Hr. Al-Bukhari & Muslim) mohon penjelasannya

Jawab: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Suami Isteri bermesraan di siang hari pada bulan Ramadhan tidaklah membatalkan puasanya sekalipun sampai keluar mani. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

“Dahulu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa alihi sallam pernah mencium dan bermesraan dengan istrinya saat berpuasa. Dan beliau adalah orang yang paling kuat menahan keinginannya (untuk berjimaa’).” (HR. Al-Bukhari)

Adapun riwayat yang dikutip saudara penanya di atas, “..meninggalkan syahwatnya” maksudnya adalah meninggalkan jimaa’ (bersetubuh) sebagaiman yang ditegaskan oleh Ibnu Hajar sekalipun tidak keluar mani. Itu yang wajib ditinggalkan oleh orang yang sedang berpuasa. Hakiim bin ‘Iqaal bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

ما يحرم عليّ من امرأتي وأنا صائم؟ قالت: فرجها

“Apa saja yang diharamkan atasku dari isteriku jika aku sedang berpuasa?, ‘Aisyah menjawab, “Kemaluannya”. [Riwayat At-Thahaawi dalam "Syarh Ma’aanil Atsaar" 1/347, Ibnu Hajar Al-'Asqalaani dalam "Fat-hul Baari" 4/177 sanadnya shahih sampai kepada Hakiim dan Hakiim adalah Imam dari kalangan Tabi'iin dinilai tsiqah oleh Ibnu Hibbaan dan Al-'Ajiili]

Baca lebih lanjut