Syarat-Syarat Maqbulnya Doa


AqidahBerdoa kepada Allah adalah salah satu dari jenis-jenis amalan ibadah. Hal itu sebagaimana telah dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bahwa “Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Daawud 1479, At-Tirmidzi 3369, Ibnu Maajah 3827, dinilai shahih oleh syaikh Al-Albaani dalam “Shahihul Jaami'” 4307)

Berdoa juga termasuk amalan yang paling agung dari amalan-amalan ibadah. Karena dengan berdoa seorang hamba dapat mendekatkan diri (taqarrub) kepada Rabb-nya ‘azza wa jalla. Berdoa dapat diartikan sebagai permohonan seorang hamba kepada Rabb-nya saat ia berkata:

دعوة الإنسان ربه عز وجل يقول يا رب يا رب وما أشبه ذلك يسأل الله تعالى أن يعطيه ما يريد وأن يكشف عنه ما لا يريد

“Yaa Rabbi, Yaa Rabbi, atau permohonan yang semisal itu, seraya memohon kepada Allah ta’ala agar memenuhi apa yang ia inginkan, dan menghilangkan apa yang tidak dikehendakinya. (Syarh Riyaadhusshaalihin 4/95 – Syaikh Al-‘Utsaimin )

Kendati demikian perlu dimengerti bahwa dalam berdoa memiliki syarat-syarat yang menjadi sebab terkabulnya doa. Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin menerangkan, “Bahwa di antara syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut Baca lebih lanjut

Ulama Menjadi Rujukan di Masa Fitnah


salafyYahya bin Ya’mur berkata, “Orang pertama yang berbicara tentang masalah taqdir di Bashrah adalah Ma’bad Al-Juhani. Maka berangkatlah aku bersama Humaid bin ‘Abdirrahman Al-Himyari untuk berhaji atau ‘umrah. Kami berkata, “Semoga kami menjumpai salah seorang dari shahabat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa alihi wasallam, maka kami akan bertanya kepadanya tentang apa yang dikatakan oleh mereka mengenai taqdir. Maka kami diberi petunjuk untuk bertemu dengan Abdullah bin ‘Umar yang sedang memasuki masjid. Lalu aku dan temanku mendekatinya, salah seorang di antara kami di sebelah kanannya dan yang lainnya berada di sebelah kirinya. Dan aku berpendapat bahwa temanku akan menyerahkan padaku untuk berbicara, maka akupun berkata:

“Wahai Abu Abdirrahman (yakni Ibnu ‘Umar), sungguh telah nampak di negeri kami sekelompok orang yang membaca Al-Qur’an dan mencari ilmu, dan beliau menyebutkan kondisi mereka dan mereka berkeyakinan tidak ada taqdir dan perkara itu terjadi dengan sendirinya!.”

Mendengar hal itu berkatalah Ibnu ‘Umar, “Jika engkau menjumpai mereka, maka sampaikan kepada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka telah berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah bin ‘Umar bersumpah dengan-Nya, “Seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas semisal gunung Uhud, lalu menginfaqkannya, maka Allah tidak akan menerimanya hingga dia beriman kepada taqdir.” (Riwayat Muslim 93) Baca lebih lanjut

Hafal Qur’an dalam Tempo 6 Bulan


biografiSyaikh Ibraahiim bin Hamd Al-Jutayli adalah orang yang mengenal Syaikh Al-’Utsaimin selama 45 tahun, dan belajar kepada beliau selama 20 tahun. Syaikh Ibraahiim berkata bahwa Syaikh Al-‘Utsaimin mampu menghafal Qur’an dalam waktu 6 bulan di bawah bimbingan gurunya yakni Syaikh ‘Ali bin Abdillah As-Syuhaytan…” (Ad-Durruts Tsamin fi Tarjamti Faqiihil Ummah Al-’Allaammah bin ‘Utsaimin hal. 23)

Syaikh bin Baaz rahmatullah ‘alaihi, “Di antara kiat mudah menghafal Qur’an, cari waktu yang tepat, berdoa kepada Allah agar diberi kemudahan, jauhi maksiat…” (binbaz)

Keterangan Syaikh di atas juga berlaku untuk menghafal hadits. Di samping itu, muraaja’ah yakni mengulang-ngulang hafalan, merekam suara dan mendengarkannya berkali-kali, berusaha memahami dan mengamalkan kandungannya, serta mengonsumsi makanan yang berkhasiat meningkatkan daya hafal seperti madu, habbatussawda’, kismis atau daging kambing muda Baca lebih lanjut

Shadaqah Tidak Akan Mengurangi Harta


latihanDari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda:

ما من يوم يصبح العباد فيه إلا ملكان ينزلان فيقول أحدهما اللهم أعطِ منفِقًا خلفًا، ويقول الآخر: اللهم أعط ممسكًا تلفًا

“Tidaklah satu hari pun dilalui oleh hamba-hamba-Nya melainkan turun dua orang malaikat. Salah satu di antara mereka berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang menginfaqkan hartanya”. Sedangkan yang lainnya berkata, “Ya Allah berikanlah kebinasaan bagi orang yang menahan hartanya.” (Muttafaqun ‘alaih)

مَا نقصت صدقة من مالٍ

“Shadaqah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda:

لاَ صدقة الا عن ظهر غِنًى

“Tidak ada shadaqah kecuali dari harta yang lebih.” (HR. Al-Bukhari)

Al-Imam Al-Husain bin Mas’uud Al-Baghawi As-Syaafi’i berkata:

والإختيار للرجل أن يتصدق بالفضل من ماله، ويستبقي لنفسه قوتا لما يخاف عليه من فتنة الفقر، وربما يلحقه الندم على ما فعل، فيبطل به أجره، ويبقى كلاً على النّاس، ولم ينكر النبي صلى الله عليه وسلم على أبي بكر خروجه من ماله أجمع، لَّما علم من قوة يقينه وصحة توكله، فلم يخف عليه الفتنة، كما خافها على غيره، أمّا من تصدق وأهله محتاجون إليه أو عليه دين فليس له ذلك، وأداء الدين والإنفاق على الأهل أولى، إلا أن يكون معروفا بالصبر، فيؤثر على نفسه ولو كان به خصاصة كفعل أبي بكر، وكذلك آثر الأنصار المهاجرين، فأثنى الله عليهم بقوله: {وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ} سورة الحشر: 9

“Dan baiknya seseorang memilih bershadaqah dengan kelebihan hartanya dan menyisakan untuk dirinya secukupnya untuk menghindari fitnah kefaqiran. Sebab boleh jadi ia menyesali atas apa yang dilakukannya (karena menginfaqkan seluruh hartanya) sehingga hal itu menggugurkan pahalanya. Maka semestinya shadaqah dan kecukupan senantiasa berdampingan dalam hidup manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam tidak mengingkari Abu Bakar yang keluar dengan seluruh hartanya, karena beliau mengetahui kuatnya keyakinan Abu Bakar dan benarnya ketawakkalan ia Baca lebih lanjut

Syaikh Muqbil Al-Waadi’i: “Ciri Khas Akhwat Salafiyyah”


tawadhuSyaikh Muqbil bin Haadi Al-Waadi’i, “Di antara ciri khas akhwat Salafiyyah ialah senantiasa berpegang teguh kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam dalam perkara hukum-hukum syariah dengan memaksimalkan kemampuannya di atas pemahaman Salafusshaalih. Dan hendaknya mereka bermuamalah dengan kaum muslimin dengan muamalah yang baik, bahkan terhadap orang-orang kafir..” (olamayemen)

Juga termasuk ciri khas akhwat Salafiyyah adalah menjaga kehormatan, kemuliaan dan kesucian dirinya. Karena semua itu merupakan ‘iffah mereka yang mengundang keridhaan Allah. Itulah sebaik-baik perhiasan dunia Baca lebih lanjut

Dilamar Pemuda Shufi


889bombTanya: Bismillah baarakallaahu fiikum ya ustadz, bolehkah sekiranya memberikan nasihat, sikap apakah yang harus di ambil sekiranya seorang muslimah yang sedang mempelajari ilmu syar’i yang sesuai dengan sunnah dan ia masih minim ilmunya ingin dilamar oleh ikhwan yang berfaham sufi, bolehkah muslimah tersebut menerima pinangannya?

Jawab: Kedudukan suami sama halnya seperti seorang guru dan pemimpin bagi isterinya. Jika guru dan pemimpinnya rusak agama dan akhlaqnya, maka akan rusak pula masa depan isteri dan anak-anaknya. Sedangkan shufi adalah aliran pemahaman sesat yang jelas merusakkan agama dan akhlaq seseorang. Maka tidak selaiknya seorang muslimah Salafiyyah dipimpin oleh seorang suami yang berpaham thariqat shufiyyah. Sekalipun terjadi pernikahan, pastinya akan mengalami banyak pertentangan dan percekcokan akibat berselisih paham.

Oleh sebab itu, dalam hal kriteria calon pendamping hidup, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam tegas mengatakan, “Utamakanlah agamanya, jika tidak maka engkau akan celaka.” Jadi pertimbangan agama adalah hal yang paling utama, supaya kehidupan rumah tangga diberkahi Allah ta’aala. Dan yang dimaksud agama meliputi manhaj, aqidah dan akhlaqnya Baca lebih lanjut

Hadits Mawdhuu’ (Palsu) Menyambut Tahun Baru Muharram


salafyHadits Palsu Menyambut Tahun Baru Muharram

مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ بِصَوْمٍ وَافْتَتَحَ السَّنَةَ الْمُسْتَقْبَلَةَ بِصَوْمٍ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ كَفَّارَةً خَمْسِيْنَ سَنَةً

“Barangsiapa berpuasa di hari terakhir bulan Dzulhijjah dan hari pertama bulan Muharram, sungguh dia telah menutup tahun lalunya dengan puasa dan membuka tahun barunya dengan puasa. Allah menjadikan baginya kaffaarah (penggugur dosa) selama limapuluh tahun.”

Hadits ini dinilai palsu oleh para Ulama karena dalam sanadnya ada dua rawi pendusta dan pemalsu hadits yaitu Al-Harawi dan Wahb. (Al-Mawdhuu’aat 2/566 – Ibnul Jawzi) Baca lebih lanjut

Waspada Syirik Membahana!


bangkitSekalipun kesyirikan telah cukup gamblang bahayanya. Namun aktivitas kesyirikan terus digencarkan dengan berbagai macam cara. Baik melalui iklan, film, bahkan candaan sambil berdiri. Padahal syarat mendapatkan ampunan Allah adalah selamatnya aqidah dari perbuatan syirik, banyak atau sedikit, kecil maupun besar. Orang seperti itulah yang memiliki hati yang salim (selamat). Sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya:

“Pada hari dimana tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (As-Syu’ara: 88-89)

Oleh sebab itu penting bagi kita mempelajari ilmu tauhid, mengkajinya dan merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dimanapun, kapanpun, sampai mati. Baca lebih lanjut

Distorsi Sejarah dengan Memanfaatkan Kesamaan Nama


tanyaDi antara modus ahlul bathil dalam mendistorsi sejarah ialah dengan memanfaatkan kesamaan nama. Seperti Ibnu Jariir penyusun kitab “Taariikh At-Thabari”, dengan Ibnu Jariir pengarang kitab “Dalaa’ilul Imaamah”. Tokoh yang pertama adalah Ulama Ahlussunnah, Abu Ja’far Muhammad bin Jariir bin Yaziid At-Thabari. Sedangkan tokoh yang kedua adalah seorang imam Syi’ah, Abu Ja’far Muhammad bin Jariir bin Rustum At-Thabari. Keduanya hidup pada tahun yang sama 310 Hijriyah.

Para ahlul bathil dari kalangan sejarawan acapkali menisbatkan kitab-kitab Ibnu Jariir yang berpaham Syi’ah kepada Ibnu Jariir Ulama Ahlussunnah. (Faedah dari “Hiqbah minat Taarikh”) Baca lebih lanjut

Nasehat Al-‘Allaamah ‘Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimi


ikhlasAl-Imam Al-‘Allaamah ‘Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimi, “Ketahuilah, terkadang Allah menggelincirkan sebagian Ulama dalam kesalahan sebagai ujian bagi selainnya. Apakah mereka tetap mengikuti al-haq dan meninggalkan fatwanya? Ataukah mereka tertipu dengan keutamaan Ulama tersebut dan kedudukannya? Tidak diragukan lagi bahwa Ulama yang terjatuh dalam kesalahan itu diberi ‘udzur, bahkan mendapat pahala karena cara ijtihadnya yang benar serta niat baiknya tanpa bermudah-mudahan. Akan tetapi, orang-orang yang mengikutinya (dalam kesalahan itu) karena tertipu dengan keutamaan Ulama tersebut tanpa melihat kepada hujjahnya secara hakiki dari kitabullah dan sunnah Rasul-Nya maka mereka tidak mendapat ‘udzur, bahkan dalam bahaya yang besar!.” (Atsar As-Syaikh Al-‘Allaamah ‘Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimi 2/294) Baca lebih lanjut