LDII Mengkafirkan Kaum Muslimin Di Luar Jama’ahnya


brain“Dan dalam nasehat supaya ditekankan bahwa bagaimanapun juga cantiknya dan gantengnya orang-orang di luar jama’ah, mereka itu adalah orang kafir, musuh Allah, musuh orang iman, calon ahli neraka, yang tidak boleh dikasihi,” [Nukilan dari Makalah LDII "Pentingnya Pembinaan Generasi Muda Jama’ah" hal. 8]

Kaum muslimin yang tidak berbaiat kepada pimpinan kelompok LDII masih dipertanyakan keislamannya dan kesucian anggota tubuhnya.

Ini pemahaman sesat kelompok LDII yang mengadopsi dari pemikiran Khawaarij. Dan baiat dalam syariah sesungguhnya hanya ditujukan kepada Ulil Amri atau panglima perang, bukan kepada Ustadz, Amir kelompok, organisasi dan semisalnya. Dahulu di zaman Soeharto gerakan ini dikenal Islam Jama’ah, setelah dilarang berganti nama menjadi LDII.

LDII juga mewajibkan zakat sebanyak 10% dari penghasilan setiap jama’ahnya. Maka tak ayal jika dana yang disetorkan kepada pimpinan kelompok bisa mencapai trilyunan rupiah. Ini adalah zakat yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam dan para shahabatnya, sama seperti zakat profesi yang digadang-gadang oleh sebagian orang. Baca lebih lanjut

Bolehkah Mengeluarkan Zakat Fitrah Dengan Uang??


ilmuTanya: Ustadz bolehkah mengeluarkan zakat fitrah dengan uang? Karena melihat kebutuhan fakir miskin di sekitar kami bukan hanya makanan tapi juga membutuhkan uang. Dan kapan waktu yang afdhal mengeluarkannya? Jazakumullah khaer.

Jawab: Para Ulama berselisih pendapat dalam masalah ini, jumhuur/mayoritas Ulama mengatakan bahwa mengeluarkan zakat fitrah harus dengan makanan pokok dan tidak boleh dengan uang. Sedangkan Abu Haniifah dan sebagian Ulama yang lainnya mengatakan boleh membayar zakat fitah dengan uang. Pendapat yang raajih/kuat adalah pendapat jumhuur. Sebab hal itu yang mencocoki praktek Rasulullah dan para shahabat beliau.

Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam juga sudah ada uang dan ada faqir miskin. Namun beliau dan para shahabatnya mengeluarkan zakat dengan makanan pokok. Dan tujuan zakat fitrah sesungguhnya untuk memberi makan faqir miskin sehingga mereka juga bisa berhari raya sebagaimana kaum muslimin yang lainnya.

Dari Ibnu ‘Abbaas radhiyallahu ‘anhuma, “Rasulullah mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan ucapan yang kotor dan untuk memberi makanan bagi orang-orang miskin.” [HR. Abu Daawud no. 1609, Ibnu Maajah no. 1827 Syaikh Al-Albaani menilai hasan dalam "Shahih Sunan Abi Daawud"] Baca lebih lanjut

Benarkah “Lailatul Qadr” telah Diangkat??


lisan22Abdullah bin Yahnus berkata, Aku katakan kepada Abu Hurairah:

زعموا أن ليلة القدر رُفعت! قال: كذب من قال ذلك

“Bahwa mereka menyangka lailatul qadr itu sudah diangkat (tidak akan terjadi lagi).” Maka Abu Hurairah menyangkal, “Telah dusta orang yang mengatakan hal itu.” [Riwayat 'Abdurrazzaaq dalam "Mushannaf" beliau 4/252]

Al-Imam Al-Mutawalli Asy-Syaafi’i menghikayatkan bahwa omongan seperti itu (lailatul qadr tidak akan terjadi lagi) berasal dari orang-orang Syi’ah Raafidhah. [At-Tatimmah]

Al-Faakihaani menghikayatkan omongan itu berasal dari Hanafiyyah. [Syarhul 'Umdah]

Faidah dari “Min Akhthaa’in Naas Hawla Lailatil Qadr”

Baca lebih lanjut

Mengencangkan Sarung & Menghidupkan 10 Malam Terakhir


salam‘Aisyah Ummul Mu’minin radhiyallahu ‘anha berkata:

كان النبي إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam apabila masuk sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan beliau mengencangkan ikatan sarungnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan isterinya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Al-Haafidzh Ibnu Hajar Al-’Asqalaani, “menghidupkan malamnya” yakni begadang untuk sibuk melakukan ketaatan. Al-Imam An-Nawawi, “Menghabiskan waktu malam untuk shalat dan amalan ibadah lainnya.” Al-’Adzhim Abaadi, “Menyibukkan diri dengan shalat, dzikir dan membaca Al-Qur’an.”

Baca lebih lanjut

Kemesraan Salaf Di Siang Hari Bulan Ramadhan


2‘Umar bin Al-Khatthaab pernah bangkit syahwatnya lalu mencium isterinya, saat sedang puasa. Maka ia datang mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam tentang hal besar yang dilakukannya maka Rasulullah tidak melarangnya. [Lihat Musnad Imam Ahmad 1/136, 354, 132, 350. "Sunanul Kubra" Al-Imam Al-Baihaqi 4/218]

Ibnu Hazm Al-Andaluusi -rahmatullah ‘alaih- meriwayatkan dari Yahya bin Sa’iid Al-Qatthaan dari Hubaib bin Syihaab dari bapaknya, bahwa beliau menyatakan, “Aku bertanya kepada Abu Hurairah tentang seorang pria yang mendekat kepada isterinya saat puasa? Maka beliau menjawab, “Aku melumati kedua bibir isteriku dalam keadaan aku sedang berpuasa.”

Dan juga dari jalan yang shahih riwayat Sa’ad bin Abi Waqqaash bahwa beliau ditanya:

سئل أتقبل و أنت صائم ؟ قال : نعم ، و أقبض على متاعها

“Apakah engkau mencium isterimu saat berpuasa? Beliau menjawab, “Ya aku menciumi isteriku, dan bahkan aku meremas kemaluannya.” [Al-Muhalla 6/212 tahqiq Syaikh Ahmad Syaakir]

‘Aisyah ummul mu’minin membimbing keponakannya yaitu Abdullah bin Abdurrahman bin Abi Bakr As-Shiddiq untuk mencium dan bermesraan dengan isterinya yakni ‘Aisyah bintu Thalhah (wanita tercantik di masanya) saat sedang berpuasa. [Lihat "Al-Muwattha'" Imam Maalik]

Baca lebih lanjut

Pasutri Bermesraan di Siang Hari Bulan Ramadhan Hingga Keluar Mani, Apakah Batal Puasanya??


pinkTanya: Assalamu’alaikum ustaz apakah bermesraan dengan isteri atau sebaliknya saat puasa hingga keluar mani batal puasanya? Dalam hadits disebutkan, “Dia meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya karena Aku, dan puasanya itu untuk-Ku.” (Hr. Al-Bukhari & Muslim) mohon penjelasannya

Jawab: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Suami Isteri bermesraan di siang hari pada bulan Ramadhan tidaklah membatalkan puasanya sekalipun sampai keluar mani. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

“Dahulu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa alihi sallam pernah mencium dan bermesraan dengan istrinya saat berpuasa. Dan beliau adalah orang yang paling kuat menahan keinginannya (untuk berjimaa’).” (HR. Al-Bukhari)

Adapun riwayat yang dikutip saudara penanya di atas, “..meninggalkan syahwatnya” maksudnya adalah meninggalkan jimaa’ (bersetubuh) sebagaiman yang ditegaskan oleh Ibnu Hajar sekalipun tidak keluar mani. Itu yang wajib ditinggalkan oleh orang yang sedang berpuasa. Hakiim bin ‘Iqaal bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:

ما يحرم عليّ من امرأتي وأنا صائم؟ قالت: فرجها

“Apa saja yang diharamkan atasku dari isteriku jika aku sedang berpuasa?, ‘Aisyah menjawab, “Kemaluannya”. [Riwayat At-Thahaawi dalam "Syarh Ma’aanil Atsaar" 1/347, Ibnu Hajar Al-'Asqalaani dalam "Fat-hul Baari" 4/177 sanadnya shahih sampai kepada Hakiim dan Hakiim adalah Imam dari kalangan Tabi'iin dinilai tsiqah oleh Ibnu Hibbaan dan Al-'Ajiili]

Baca lebih lanjut

Apakah Hukum Jihad (Qitaal) Saat Ini “Fardhu ‘Ain”?


bukuAssalamu’alaikum, bagaimana hukum jihad (qitaal/perang) saat ini ustadz apakah fardhu ain? sebagian orang ada yang menguji kami dengan model pertanyaan seperti itu. Jazakalloh khoir.

Jawab: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Jihad dalam pengertian qitaal/perang hukum asalnya adalah fardhu kifaayah, yakni jika telah ditunaikan oleh sebagian kaum Muslimin maka kewajiban itu gugur atas kaum Muslimin yang lainnya. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’aala:

“Dan berjihadlah kalian di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kalian, dan Dia tidak menjadikan kesulitan atas kalian dalam agama ini.” [Al-Hajj: 78]

Para Ulama mengatakan, bahwa ayat ini menunjukkan hukum jihad adalah fardhu kifaayah. Sebab Allah menggandengkan perintah jihad dengan terangkatnya kesulitan atas umat ini dalam satu ayat. Jika hukum asal jihad perang secara fisik adalah fardhu ‘ain yakni wajib atas segenap orang yang telah baligh, maka ini adalah kesulitan yang tentunya Allah tidak akan menggandengkan penyebutannya dalam ayat ini dengan perintah jihad. Allah juga menegaskan:

“Dan tidak semestinya kaum Mu’minin semuanya pergi menuju medan perang. Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam ilmu agama, guna memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali sehingga mereka dapat menjaga dirinya.” [At-Tawbah: 122] Baca lebih lanjut

Fatwa Syaikh Muhammad bin Haadi Al-Madkhali Terkait I.S.I.S


salafyFATWA SYAIKH MUHAMMAD BIN HAADI AL-MADKHALI (MUFTI AL-MADINAH AN-NABAWIYYAH) TERKAIT GERAKAN MILITAN EKSTRIM “I.S.I.S” (NEGARA ISLAM IRAQ & SYRIA)

Syaikh Muhammad bin Haadi Al-Madkhali -hafidzhahullah- berkata:

فهذا هُوَ التّلبيسُ، وهذا هُوَ التّغريرُ بأبنائنا وشبابنا، يُؤخذ فلذات الأكباد ويُدفع بها إلى محلات! معارك طاحنة! الله أعلمُ بما يجري فيها!

لاَ، وأكثرُ من ذلكَ: هذه الجماعات نفسها التي يُقال عنها جماعات جهاد نفسها مُتناحِرَة فيما بينها! داعش تُحارب داعج! وداعج يُحارب قاعد! وقاعد يُحارب ما أدري من! وقتْلٌ وقِتَالٌ! هذا حالُهُم نراهُ نحنُ بأعيُنِنَا، يعني: لسنَا مُغيّبينَ نحنُ عن ما يجري على السّاحة.

“Ini adalah suatu pengkaburan dan penipuan atas anak-anak kita dan syabaab (para pemuda). Mereka mengambil anak-anak muda dan menggunakan mereka untuk maju ke depan di lokasi-lokasi pertempuran sengit! Hanya Allah yang mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di sana!

Lebih dari itu kelompok-kelompok ini yang menamakan diri-diri mereka dengan gerakan Jihad, mereka berperang sesama mereka! Kelompok ISIS (Negara Islam Iraq dan Syria) berperang dengan kelompok ISIJ (Negara Islam Iraq dan Semenanjung Arab). Begitu pula kelompok ISIJ berperang melawan Al-Qaeda! Dan Al-Qaeda, saya tidak tahu berperang melawan siapa?? saling membunuh dan saling berperang. Itulah keadaan mereka. Kita telah menyaksikannya dengan mata kepala kita sendiri. Dan kita telah mengetahui apa yang terjadi sana

.فين هذا الإسلام الذي يُدعَى إليه؟! وفين هذا الجِهاد الذي يُدعى إليه؟!

الجهادُ شرّف الله به هذه الأُمَّة أُمّة الجهاد اُمّة مُحمّدٍ -صلّى اللهُ عليهِ وسلّم-، لكنِ الجهاد له ضوابِطُهُ، ولهُ شروطُهُ، وله قواعِدُهُ، ولهُ أهلُهُ الذينَ
يتكلَّمُون في بيانِه شرعًا، وأهلُهُ الذين يأْمُرونَ بِهِ قيادةً هُمُ الذين يُسمَع لهُم ويُطاعُ لَهُم.

Maka dimana Islam yang mereka serukan? Di mana jihad yang mereka serukan? Baca lebih lanjut

Doa Meredakan Kecemasan Hati


awanTanya: Assalamu’alaikum, adakah do’a/amalan yg bisa meredakan rasa cemas yang besar dalam hati. Saat ini saya sedang cemas urusan ma’isyah (pekerjaan) saya yang kembali kena masalah besar. Terima kasih banyak sebelumnya.

Jawab: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda:

“Tidaklah seorang muslim diliputi oleh kegundahan atau kesedihan hati lantas ia berdoa:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ ابْنُ عَبْدِكَ ابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, dari keturunan hamba-Mu (Adam) dan anak hamba perempuan-Mu (Hawwaa). Ubun-ubunku di tangan-Mu, hukum-Mu berlaku padaku, qadha-Mu adalah adil bagiku. Aku mohon kepada-Mu dengan setiap nama-Mu yang telah Engkau namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau rahasiakan untuk diri-Mu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya di dadaku, penghilang kesedihanku serta penghilang kegundahanku….” Baca lebih lanjut

Kufur ‘Amal yang Berlawanan Total dengan Iman & Kufur ‘Amal yang Tidak Berlawanan Total


kafirIbnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahmatullah ‘alaih- berkata:

أن الكفر نوعان كفر عمل وكفر جحود وعناد, فكفر الجحود أن يكفر بما علم أن الرسول جاء به من عند الله جحودا وعنادا من أسماء الرب وصفاته وأفعاله وأحكامه, وهذا الكفر يضاد الإيمان من كل وجه. أما كفر العمل فينقسم إلى ما يضاد الإيمان وإلى ما لا يضاده. فالسجود للصنم والاستهانة بالمصحف وقتل النبي وسبه يضاد الإيمان, وأما الحكم بغير ما أنزل الله وترك الصلاة فهو من الكفر العملي قطعا ولا يمكن أن ينفي عنه اسم الكفر بعد أن اطلقه الله ورسوله عليه فالحاكم بغير ما أنزل الله كافر وتارك الصلاة كافر بنص رسول الله صلى الله عليه وسلم, ولكن هو كفر عمل لا كفر اعتقاد

“Sesungguhnya kekufuran itu ada dua macam, yaitu “kufur ‘amal” dan “kufur juhuud” (pengingkaran) atau ‘inaad (penentangan). Kufur juhuud yakni kufur setelah mengetahui bahwa Rasul membawa risalah yang datang dari sisi Allah dengan pengingkaran dan penentangan terhadap nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan hukum-hukum-Nya. Kekufuran ini berlawanan total dengan keimanan dari segala sisi. Adapun kufur ‘amal terbagi menjadi dua macam, yaitu “ada yang berlawanan total dengan keimanan”, dan “ada yang tidak berlawanan total dengan keimanan”. Seperti sujud kepada berhala, menghina mushaf Qur’an, membunuh Nabi dan mencelanya semua ini adalah kufur ‘amal (perbuatan) yang berlawanan total dengan keimanan. Sedangkan berhukum dengan selain hukum yang Allah turunkan, meninggalkan shalat adalah bentuk kufur ‘amal. Tidak mungkin untuk dinafikkan darinya nama kekufuran setelah Allah dan Rasul-Nya memutlakkannya. Hakim yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah adalah kafir, orang yang meninggalkan shalat kafir berdasarkan nash Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa alihi wasallam. Akan tetapi itu adalah kufur ‘amal (yang tidak berlawanan total dengan keimanan) dan bukan kufur i’tiqaad (keyakinan).” [As-Shalaah wa Hukmu Taarikihaa hal. 56-57]

Kendati demikian, orang yang jujur membenarkan perintah Allah berupa kewajiban shalat, mustahil baginya meninggalkan shalat sepanjang hidupnya, sekalipun ia mengakui shalat itu wajib. Baca lebih lanjut