Hadits Mawdhuu’ (Palsu) Menyambut Tahun Baru Muharram


salafyHadits Palsu Menyambut Tahun Baru Muharram

مَنْ صَامَ آخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ بِصَوْمٍ وَافْتَتَحَ السَّنَةَ الْمُسْتَقْبَلَةَ بِصَوْمٍ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ كَفَّارَةً خَمْسِيْنَ سَنَةً

“Barangsiapa berpuasa di hari terakhir bulan Dzulhijjah dan hari pertama bulan Muharram, sungguh dia telah menutup tahun lalunya dengan puasa dan membuka tahun barunya dengan puasa. Allah menjadikan baginya kaffaarah (penggugur dosa) selama limapuluh tahun.”

Hadits ini dinilai palsu oleh para Ulama karena dalam sanadnya ada dua rawi pendusta dan pemalsu hadits yaitu Al-Harawi dan Wahb. (Al-Mawdhuu’aat 2/566 – Ibnul Jawzi) Baca lebih lanjut

Waspada Syirik Membahana!


bangkitSekalipun kesyirikan telah cukup gamblang bahayanya. Namun aktivitas kesyirikan terus digencarkan dengan berbagai macam cara. Baik melalui iklan, film, bahkan candaan sambil berdiri. Padahal syarat mendapatkan ampunan Allah adalah selamatnya aqidah dari perbuatan syirik, banyak atau sedikit, kecil maupun besar. Orang seperti itulah yang memiliki hati yang salim (selamat). Sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya:

“Pada hari dimana tidak berguna lagi harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (As-Syu’ara: 88-89)

Oleh sebab itu penting bagi kita mempelajari ilmu tauhid, mengkajinya dan merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dimanapun, kapanpun, sampai mati. Baca lebih lanjut

Distorsi Sejarah dengan Memanfaatkan Kesamaan Nama


tanyaDi antara modus ahlul bathil dalam mendistorsi sejarah ialah dengan memanfaatkan kesamaan nama. Seperti Ibnu Jariir penyusun kitab “Taariikh At-Thabari”, dengan Ibnu Jariir pengarang kitab “Dalaa’ilul Imaamah”. Tokoh yang pertama adalah Ulama Ahlussunnah, Abu Ja’far Muhammad bin Jariir bin Yaziid At-Thabari. Sedangkan tokoh yang kedua adalah seorang imam Syi’ah, Abu Ja’far Muhammad bin Jariir bin Rustum At-Thabari. Keduanya hidup pada tahun yang sama 310 Hijriyah.

Para ahlul bathil dari kalangan sejarawan acapkali menisbatkan kitab-kitab Ibnu Jariir yang berpaham Syi’ah kepada Ibnu Jariir Ulama Ahlussunnah. (Faedah dari “Hiqbah minat Taarikh”) Baca lebih lanjut

Nasehat Al-‘Allaamah ‘Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimi


ikhlasAl-Imam Al-‘Allaamah ‘Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimi, “Ketahuilah, terkadang Allah menggelincirkan sebagian Ulama dalam kesalahan sebagai ujian bagi selainnya. Apakah mereka tetap mengikuti al-haq dan meninggalkan fatwanya? Ataukah mereka tertipu dengan keutamaan Ulama tersebut dan kedudukannya? Tidak diragukan lagi bahwa Ulama yang terjatuh dalam kesalahan itu diberi ‘udzur, bahkan mendapat pahala karena cara ijtihadnya yang benar serta niat baiknya tanpa bermudah-mudahan. Akan tetapi, orang-orang yang mengikutinya (dalam kesalahan itu) karena tertipu dengan keutamaan Ulama tersebut tanpa melihat kepada hujjahnya secara hakiki dari kitabullah dan sunnah Rasul-Nya maka mereka tidak mendapat ‘udzur, bahkan dalam bahaya yang besar!.” (Atsar As-Syaikh Al-‘Allaamah ‘Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimi 2/294) Baca lebih lanjut

Hukum Shalat Gerhana


Fresh_VistaTanya: Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Ustadz, ada pengumuman hari ini tentang gerhana bulan total, yakni akan terjadi pada pukul 15.14 – 20.25 WIB. Apakah harus shalat gerhana? Kemdian jika disunnahkan, bagaimana kondisinya, apakah harus terlihat atau cukup dari pengumuman bahwa terjadi gerhana?

Jawab: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Hukum shalat gerhana yang lebih raajih (kuat) adalah fardhu kifaayah, sebagaimana yang dikuatkan sebagian Ulama, dan pendapat ini yang dipilih oleh Syaikh Al-‘Utsaimin dalam “As-Syarhul Mumti'” . Hal itu berdasarkan lahiriyah hadits yang memerintahkan shalat gerhana.

Adapun yang menunaikannya hanyalah bagi mereka yang melihatnya dengan mata kepala secara langsung, “Apabila kalian melihat gerhana, maka dirikanlah shalat…” (HR. Al-Bukhari 1043). Dan shalat gerhana ini bisa ditegakkan secara berjamaah atau perorangan. (Syarh Shahih Muslim lil Imam An-Nawawi) Baca lebih lanjut

Adakah Perjanjian Pra Nikah?


inniTanya: Adakah ketentuan perjanjian pra nikah dalam syariah? Mohon penjelasannya

Jawab: Perjanjian atau persyaratan sebelum nikah adalah perkara yang paling berhak untuk ditunaikan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam:

احق الشروط ان توفوا به ما استحللتم به الفروجَ

“Syarat yang paling berhak untuk ditunaikan adalah persyaratan yang dengannya kalian menghalalkan kemaluan para wanita (nikah).” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Akan tetapi syarat yang dimaksud adalah syarat yang tidak bertolak belakang dengan ketentuan syariat. Adapun jika bertentangan maka hukumnya tertolak. Sebagaimana yang dihikayatkan dalam madzhab Syaafi’i Baca lebih lanjut

Membenci Risalah Nabi Adalah Pembatal Keislaman


salamMembenci apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa alihi wasallam sekalipun dia mengamalkannya adalah pembatal keislaman. Allah berfirman:

“Dan orang-orang yang kafir maka celakalah atas mereka, dan Allah menghilangkan amalan-amalan mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang Allah turunkan, maka Allah menghapuskan amalan-amalan mereka.” (Muhammad: 8-9).

Al-Qawlul Mufiid fi Adillatit Tawhiid  Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaan Al-Wushabi Baca lebih lanjut

Bukan Sekedar Daging & Darah yang Mengalir


لن ينال الله لحومها ولا دماؤها ولكن يناله التقوى منكم

Allah ta’ala berfirman: “Daging-daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, akan tetapi yang sampai kepada-Nya ialah ketaqwaan kamu.” [Al-Hajj: 37]

ليس المقصود منها ذبحها فقط. ولا ينال الله من لحومها ولا دمائها شيء، لكونه الغني الحميد، وإنما يناله الإخلاص فيها، والاحتساب، والنية الصالحة، ولهذا قال: { وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ } ففي هذا حث وترغيب على الإخلاص في النحر، وأن يكون القصد وجه الله وحده، لا فخرا ولا رياء، ولا سمعة، ولا مجرد عادة، وهكذا سائر العبادات، إن لم يقترن بها الإخلاص وتقوى الله، كانت كالقشور الذي لا لب فيه، والجسد الذي لا روح فيه

Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di rahimahullah menerangkan: “Bukanlah yang dimaksud dalam ayat tersebut hanya sekedar menyembelih hewan qurban semata. Dengan kata lain daging-daging qurban dan darah-darah yang mengalir itu tidak akan sampai kepada Allah sedikitpun karena Dia mahakaya lagi mahaterpuji. Namun yang sampai kepada Allah itu hanyalah niat yang ikhlas dalam menyembelih, ihtisaab serta keshalihan hati. Oleh sebab itulah Allah menyatakan, “..akan tetapi yang sampai kepada-Nya itu ialah ketaqwaan kamu”.

Maka dalam ayat ini terdapat motivasi serta dorongan guna mengikhlasan niat dalam berqurban. Yakni mengharapkan wajah Allah semata dari amalan ibadahnya tersebut, bukan untuk kesombongan, riya’, sum’ah atau hanya sebagai kebiasaan yang dilakukan tiap tahun semata. Demikian pula segenap amalan ibadah, bila tidak disertai niat yang ikhlas padanya dan taqwallah maka keadaannya seperti kulit tanpa isi atau jasad tanpa ruh.” [Taisirul Karimirrahman fi Tafsir Kalamil Mannan 1/538] Baca lebih lanjut

Hukum Puasa Sunnah Hari Sabtu


proDiriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda:

لا تصوموا يوم السبت إلا فيما افترض عليكم فإن لم يجد أحدكم إلا لحاء عنبة أو عود شجرة فليمضغه

“Janganlah kalian berpuasa pada hari sabtu kecuali puasa yang diwajibkan atas kalian. Maka jika seseorang tidak mendapatkan kecuali kulit pohon anggur atau ranting maka kunyahlah itu.” (HR. ‘Abd bin Humaid dalam “Al-Muntahab” tahqiq Musthafa Al-‘Adawi hadits ke 507, Abu Daawud 2421, At-Tirmidzi 744, An-Nasaa’i dalam “Sunanul Kubra” 2/143 dan yang lainnya)

Para Ulama berselisih pendapat dalam menilai keabsahan hadits di atas. Sebagian Ulama mendha’ifkannya, sebagian yang lain menghasankannya. Bagi Ulama yang menilai dha’if membolehkan puasa sunnah di hari sabtu secara mutlak. Di antara mereka adalah:

1. Al-Imam Maalik, “Hadits ini dusta.” (Dinukil oleh Abu Daawud dalam sunannya hadits 2424)
2. Al-Imam Ahmad, “Hadits-hadits larangan puasa hari sabtu semuanya kontradiktif.” (“Iqtidhaa Shiraathil Mustaqiim” nukilan dari Al-Atsram – namun dalam Al-Mughni 3/166 Imam Ahmad membolehkan puasa hari Sabtu dengan catatan menyertakan dengan hari lainnya)
3. Dinukil dari Al-Imam Az-Zuhri pendha’ifan hadits tersebut. (Syarh Ma’aanil Atsar 2/81)
4. Abu Daawud, “Hadits ini mansuukh (terhapus hukumnya).” (Sunan Abi Daawud 2/806) Baca lebih lanjut

Keutamaan Puasa ‘Arafah


awanHadits tentang keutamaan puasa ‘Arafah

عن أبي قتادة رضي الله عنه قال سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم: عن صوم يوم عرفة قال: يكفر السنة الماضية والباقية

Dari Abu Qataadah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam pernah ditanya tentang puasa pada hari ‘Arafah, beliau bersabda, “Puasa ‘Arafah menggugurkan dosa-dosa satu tahun sebelumnya dan setelahnya.” (HR. Muslim 1162)

Makna “menggugurkan dosa-dosa satu tahun sebelumnya” yakni dosa-dosa kecil. Adapun tahun setelahnya dosa-dosanya diampuni oleh Allah jika ia menjauhi dosa-dosa besar. Sedangkan menurut sebagian Ulama lainnya mengatakan seseorang akan diberi kemudahan oleh Allah untuk menjauhi dosa-dosa, atau diberi tawfiq agar melakukan amalan yang dapat membersihkan dosa-dosanya Baca lebih lanjut