Kisah Akhwat Bercadar dari Perancis


niqbDiceritakan seorang wanita muslimah bercadar sedang berbelanja di salah satu super market di Perancis. Setelah selesai mendapatkan barang-barang yang dibutuhkannya, dia segera pergi ke kasir untuk membayar.

Kebetulan kasir yang ditujunya adalah seorang wanita keturunan Arab yang berpakaian tidak menutup auratnya. Kasir tersebut memandang wanita bercadar itu dengan pandangan melecehkan, kemudian dia mulai menghitung nilai barang belanjaan wanita tersebut sambil melemparkannya dengan kasar ke atas meja. Namun wanita bercadar itu tidak terpengaruh dengan provokasi sang kasir, dia tetap tenang, bahkan sangat tenang, hingga membuat sang kasir semakin geram dan tidak dapat lagi menguasai diri, lalu berkata dengan nada melecehkan,

“Kita mempunyai berbagai problem dan permasalahan di Perancis dan cadar kamu ini adalah salah satu problem. Kita di sini untuk berbisnis, bukan untuk pamer agama maupun sejarah. Kalau kamu mau menjalani agama atau mengenakan cadar, pergilah sana ke negerimu dan jalani agamamu sesukamu…!!” Baca lebih lanjut

Hukum Pajang Foto Akhwat di Jejaring Sosial


bukuTanya: Assalamu’alaikum.. ustadz bagaimana hukumnya seorang akhwat memajang foto dirinya yang berniqob sebagai profil picture di jejaring sosial? jazakumullah khoir.

Jawab: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Tidak diperbolehkan seorang wanita memajang fotonya di jejaring sosial atau media lainnya yang dapat diakses oleh semua orang, sebagaimana yang telah ma’lum dalam kaidah “Saddudz dzarii’ah” (menutup celah). Hal itu dapat menjadi sarana yang mengantarkan seseorang kepada zina mata dan zina hati.

Dari Abdullah bin ‘Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda:

المرأة عورة و إنها إذا خرجت استشرفها الشيطان

“Wanita itu aurat, dan sesungguhnya bila ia keluar maka syaithan akan menghiasinya.” (HR. At-Thabrani dalam Al-Awsaath no. 3036 – sanadnya shahih, para perawinya tsiqaat selain Ibraahiim bin Hisyaam Al-Baghawi – Silsilah Al-Ahaadits As-Shahihah no. 2688)

Syaikh ‘Ali Al-Qaari rahimahullah menerangkan:

أي زينها في نظر الرجال و قيل أي نظر إليها ليغويها و يغوي بها

“Yakni syaithan menghiasi wanita tersebut di mata lelaki yang melihatnya (untuk menggodanya), dan ada juga yang mengatakan syaithan melihat kepada wanita itu untuk menyesatkan dirinya dan menyesatkan orang oleh sebab dirinya.” Baca lebih lanjut

Benarkah Berbicara Tentang Allah Tanpa Ilmu Lebih Besar dari Dosa Syirik?


ilmuIlmu yang dimaksud disini ialah ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah As-Shahihah, karena kedua ilmu ini bersumber dari wahyu Allah ta’aala. Sedangkan pembicaraan tentang Allah meliputi nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, agama-Nya serta syariat-Nya yang mulia. Allah ta’aala berfirman:

قل إنما حرم ربي الفواحش ما ظهر منها وما بطن والإثم والبغي بغير الحق وأن تشركوا بالله ما لم ينزل به سلطانا وأن تقولوا على الله ما لا تعلمون

“Katakanlah, “Rabbku hanyalah mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan dosa besar, serta perbuatan zalim yaitu mengambil hak orang lain dengan cara yang tidak benar, dan menyekutukan Allah dengan selain-Nya yang Allah tidak turunkan baginya alasan pembenarannya, dan juga yang Allah larang adalah kalian berbicara tentang Allah dengan apa yang kalian tidak mengerti.

” (Al-A’raaf: 33)

Ayat di atas bila dibaca sepintas lintas maka kita akan berkesimpulan bahwa berbicara tentang Allah tanpa dasar ilmu tergolong dosa yang paling besar bahkan mengalahkan dosa syirik, benarkah demikian? Baca lebih lanjut

Sepenggal Kisah Teladan Asy-Syaikh Al-‘Allaamah Al-Faqiih Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin -rahmatullah ‘alaih-


hikmahDikisahkan, pada sebuah khutbah Jum’at, Asy-Syaikh Al-’Utsaimin menjelaskan tentang keutamaan surat Al-Fatihah sebelum tidur dan menganjurkan setiap orang untuk membacanya. Setelah selesai khutbah, salah seorang pelajar mengingatkan Asy-Syaikh Al-’Utsaimin, “Wahai Syaikh, yang anda maksud mungkin tadi keutamaan ayat Kursi.”

Asy-Syaikh Al-’Utsaimin kemudian menyadari bahwa dirinya secara tidak sengaja telah melakukan kesalahan. Maka beliau pun segera meralat kesalahannya sebelum para jamaah pergi, mengingatkan mereka bahwa beliau telah berbuat salah dan yang benar adalah keutamaan membaca ayat Kursi sebelum tidur. (Safahat Mushriqah min Hayat Al-Imam Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, hal. 43)

Menuntut Ilmu Sejak Anak-anak

Asy-Syaikh ‘Ashim bin ‘Abdil Mun’im Al-Mari menceritakan:
“Sifat yang paling menonjol dari Asy-Syaikh Al-’Utsaimin adalah ketekunan beliau dalam menuntut ilmu. Beberapa saudara Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad Al-Mani’ rahimahullah, Qadhi Unaizah pada tahun 1360 H (1936) menyebutkan bahwa Asy-Syaikh Al-’Utsaimin selalu datang pagi-pagi ke rumah Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad sambil membawa kertas dan buku. Asy-Syaikh Al-’Utsaimin kemudian mengetuk pintu, mengucapkan salam dan meminta ijin untuk masuk ke perpustakaan. Beliau biasa ada di perpustakaan itu sampai menjelang Dzuhur. Baca lebih lanjut

Menolak ISIS = Menolak “Laa Ilaaha Illallaah”?


ak47Penolakan terhadap ISIS jangan sekali-kali diterjemahkan sebagai penolakan terhadap dakwah tauhid “Laa ilaaha illallaah”, terhadap sunnah, syariah, daulah Islamiyyah, Khilaafah, sebagaimana yang digadang-gadang oleh mass media.

Fenomena ISIS, ISIJ, Daulah Al-Baqiyah adalah repetisi dari gerakan takfiriyyah khawaarij di masa silam yang sempat mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Namun faktanya tak ada seorangpun dari shahabat Nabi yang bersama mereka. Padahal keselamatan beragama hanyalah dengan merujuk kepada cara beragama Rasulullah dan cara beragama para shahabatnya. Baca lebih lanjut

Dakwah Tauhid Sumber Perpecahan?!


salafSyaikh Rabii’ bin Haadi Al-Madkhali -hafidzhahullah-, “Tidak syakk lagi bahwa dakwah tauhid adalah dakwah pemecah belah, pemecah belah di antara siapa? Antara ahlul haq dengan ahlul batil, ahlut tauhid dengan ahlus syirik..!

Sebagaimana dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ

“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada kaum Tsamuud saudara mereka yaitu Shaalih (yang menyeru) “Sembahlah Allah semata!” Tetapi tiba-tiba mereka menjadi dua golongan yang saling bermusuhan.” [An-Naml: 45]

Faidah dari “Majmuu’ Fataawa Syaikh Rabii’ Al-Madkhali” 1/130

Baca lebih lanjut

Kedermawanan Syaikh bin Baaz Terhadap Wanita Tua di Pelosok Afrika


hikmahAli bin ‘Abdillah Al-Farbi berkata:

“Diantara cerita yang paling berkesan kepadaku adalah, ada empat orang dari salah satu lembaga bantuan (kemanusiaan) di Kerajaan Arab Saudi diutus untuk menyalurkan bantuan di pelosok hutan Afrika. Setelah berjalan kaki selama empat jam dan setelah lelah berjalan, mereka (4 orang utusan ini, pent.) melewati seorang wanita tua di salah satu kemah dan mengucapkan salam kepadanya lalu memberikannya bantuan. Wanita tua itu bertanya kepada mereka : “Kalian dari negara mana?” Mereka pun menjawab : “Kami dari Kerajaan Arab Saudi.”

Lalu wanita tua itu berkata : “Sampaikan salamku untuk Syaikh Ibnu Baz.” Mereka bertanya, “Semoga Allah merahmati Anda, bagaimana Syaikh Ibnu Baz mengenali Anda sedangkan Anda berada di lokasi yang terpencil dan jauh ini?”

Wanita tua renta itu menjawab : “Demi Allah, sesungguhnya beliau (Syaikh Ibnu Baz) mengirimkan uang 1000 real kepadaku setiap bulan. Setelah aku mengirimkan sepucuk surat kepadanya untuk memohon bantuan dan pertolongan setelah (meminta) pertolongan Allah عزّوجلّ.” (Tabloid Al-Madinah no 12182 – kompasiana dengan sedikit perubahan)

Fikri Abul Hasan
Via grup whatsapp “Madrasah Salafiyyah”

Bolehkah Mengqadha’ Puasa Syawwaal di Bulan lain?


biografiSyaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di -rahmatullah ‘alaih- menerangkan, “Yang nampak dari dua pendapat para ulama, bahwasannya jika telah berlalu bulan Syawwaal dan seseorang belum sempat berpuasa (enam hari) maka tidak perlu mengqadha’ (di bulan lain). Karena puasa Syawwaal merupakan sunnah yang telah luput waktunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam telah mengkhususkannya dengan bulan Syawwaal, maka tidak akan diperoleh pahala puasa pada bulan tersebut jika dilakukan di bulan lain, dikarenakan luput dari maslahat menyegerakan amalan kebaikan yang dicintai oleh Allah ta’aala. Jika seandainya bulan Syawwaal sama kedudukannya dengan bulan-bulan lain, tentunya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam tidak akan menyebutkan keutamaannya.” Kendati demikian, ada yang mengatakan, “Jika seseorang mengalami ‘udzur seperti sakit, haidh, nifas atau ‘udzur-‘udzur lainnya yang menyebabkan seseorang terhalang dari puasa Syawwaal dan menundanya, maka dia tetap akan mendapatkan pahalanya walaupun berpuasa pada bulan berikutnya, wallaahu a’lam.” [Fataawa Syaikh As-Sa'di hal. 230] Baca lebih lanjut

Bolehkah Berpuasa Syawwaal Sebelum Qadha’ (mengganti) Puasa Ramadhan?


ilmuHal ini berkaitan dengan hukum puasa sunnah sebelum mengqadha’ puasa Ramadhan. Ada silang pendapat di antara para Ulama dalam masalah ini.

Para Ulama Maalikiyyah, dan Imam Ahmad dalam salah satu riwayat mewajibkan qadha’ Ramadhan sebelum berpuasa sunnah [Al-Bada'i' 2/104, Mawaahibul Jalil 2/417, Al-Majmuu' 6/375, Al-Mughni 4/401, Shahih Fiqhussunnah 140] Karena meng-qadha’ hukumnya wajib, berpuasa enam hari hukumnya sunnah, hal yang wajib lebih didahulukan daripada yang sunnah. Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin -rahmatullah ‘alaih- sejalan dengan pendapat ini [Syarh Riyadhus Shalihin 3/507 dan As-Syarhul Mumti' 6/448].

Dalil mereka ialah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam:

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari di bulan Syawwaal maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” [HR. Muslim 1164]

Dipahami lafal “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan…” yakni telah berpuasa Ramadhan secara tuntas. Sebab jika masih ada hutang puasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawwaal maka ia tidak memperoleh pahala puasa setahun penuh. Orang yang masih berhutang puasa sehari saja di bulan Ramadhan tidak dikatakan telah berpuasa Ramadhan, akan tetapi berpuasa beberapa hari di bulan Ramadhan.

Sedangkan para Ulama Syaafi’iyyah menganjurkan untuk mendahulukan qadha’ puasa Ramadhan sebelum berpuasa sunnah [Al-Badaa'i' 2/104, Mawaahibul Jalil 2/417, Al-Majmuu' 6/375, Al-Mughni 4/401, Shahih Fiqhussunnah 140]. Artinya boleh berpuasa sunnah sebelum meng-qadha’, namun lebih utama mendahulukan yang wajib.

Adapun para Ulama dari kalangan Hanafiyyah, dan Imam Ahmad dalam riwayat lain [Al-Badaa'i' 2/104, Mawaahibul Jalil 2/417, Al-Majmuu' 6/375, Al-Mughni 4/401 – Shahih Fiqhussunnah 140] serta para ulama yang sependapat dengan mereka berpandangan hal tersebut tidaklah wajib. Yakni boleh berpuasa sunnah walaupun belum mengqadha’ puasa Ramadhan. Dalilnya adalah sebagai berikut Baca lebih lanjut

Puasa Syawwaal dilakukan Berturut-Turut atau Selang-Seling?


bukuAl-Imam Muhammad bin Ismaa’il Al-Amir As-Shan’aani -rahmatullah ‘alaih- menerangkan:

“Dan perlu diketahui, bahwa pahala puasanya akan diperoleh orang yang berpuasa dengan berlainan hari atau berturut-turut, dan atau orang yang berpuasa sehari setelah ‘Ied atau pada pertengahan bulan Syawwaal. Dalam Sunan At-Tirmidzi diriwayatkan dari Ibnul Mubaarak, bahwa beliau memilih berpuasa enam hari di permulaan bulan Syawwaal. Diriwayatkan pula dari Ibnul Mubaarak bahwasannya beliau berkata, “Jika puasa enam hari di bulan Syawwaal dilakukan dengan tidak berturut-turut maka yang demikian boleh” [Subulussalam Al-Muwasshilah ilaa Buluughil Maram hal. 567]

Akan tetapi yang afdhal (lebih utama) adalah dengan mengerjakannya berturut-turut sebagaimana yang dinyatakan Al-Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim 8/304. Karena yang demikian merupakan bentuk bersegera dalam beramal kebaikan. Allah ta’aala berfirman:

“Mereka itu orang-orang yang bersegera dalam berbagai amalan kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dulu memperolehnya.” [Al-Mu'minun: 61] Baca lebih lanjut