Adakah Perjanjian Pra Nikah?


inniTanya: Adakah ketentuan perjanjian pra nikah dalam syariah? Mohon penjelasannya

Jawab: Perjanjian atau persyaratan sebelum nikah adalah perkara yang paling berhak untuk ditunaikan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam:

احق الشروط ان توفوا به ما استحللتم به الفروجَ

“Syarat yang paling berhak untuk ditunaikan adalah persyaratan yang dengannya kalian menghalalkan kemaluan para wanita (nikah).” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Akan tetapi syarat yang dimaksud adalah syarat yang tidak bertolak belakang dengan ketentuan syariat. Adapun jika bertentangan maka hukumnya tertolak. Sebagaimana yang dihikayatkan dalam madzhab Syaafi’i Baca lebih lanjut

Membenci Risalah Nabi Adalah Pembatal Keislaman


salamMembenci apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa alihi wasallam sekalipun dia mengamalkannya adalah pembatal keislaman. Allah berfirman:

“Dan orang-orang yang kafir maka celakalah atas mereka, dan Allah menghilangkan amalan-amalan mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang Allah turunkan, maka Allah menghapuskan amalan-amalan mereka.” (Muhammad: 8-9).

Al-Qawlul Mufiid fi Adillatit Tawhiid  Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaan Al-Wushabi Baca lebih lanjut

Bukan Sekedar Daging & Darah yang Mengalir


لن ينال الله لحومها ولا دماؤها ولكن يناله التقوى منكم

Allah ta’ala berfirman: “Daging-daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, akan tetapi yang sampai kepada-Nya ialah ketaqwaan kamu.” [Al-Hajj: 37]

ليس المقصود منها ذبحها فقط. ولا ينال الله من لحومها ولا دمائها شيء، لكونه الغني الحميد، وإنما يناله الإخلاص فيها، والاحتساب، والنية الصالحة، ولهذا قال: { وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ } ففي هذا حث وترغيب على الإخلاص في النحر، وأن يكون القصد وجه الله وحده، لا فخرا ولا رياء، ولا سمعة، ولا مجرد عادة، وهكذا سائر العبادات، إن لم يقترن بها الإخلاص وتقوى الله، كانت كالقشور الذي لا لب فيه، والجسد الذي لا روح فيه

Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’di rahimahullah menerangkan: “Bukanlah yang dimaksud dalam ayat tersebut hanya sekedar menyembelih hewan qurban semata. Dengan kata lain daging-daging qurban dan darah-darah yang mengalir itu tidak akan sampai kepada Allah sedikitpun karena Dia mahakaya lagi mahaterpuji. Namun yang sampai kepada Allah itu hanyalah niat yang ikhlas dalam menyembelih, ihtisaab serta keshalihan hati. Oleh sebab itulah Allah menyatakan, “..akan tetapi yang sampai kepada-Nya itu ialah ketaqwaan kamu”.

Maka dalam ayat ini terdapat motivasi serta dorongan guna mengikhlasan niat dalam berqurban. Yakni mengharapkan wajah Allah semata dari amalan ibadahnya tersebut, bukan untuk kesombongan, riya’, sum’ah atau hanya sebagai kebiasaan yang dilakukan tiap tahun semata. Demikian pula segenap amalan ibadah, bila tidak disertai niat yang ikhlas padanya dan taqwallah maka keadaannya seperti kulit tanpa isi atau jasad tanpa ruh.” [Taisirul Karimirrahman fi Tafsir Kalamil Mannan 1/538] Baca lebih lanjut

Hukum Puasa Sunnah Hari Sabtu


proDiriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda:

لا تصوموا يوم السبت إلا فيما افترض عليكم فإن لم يجد أحدكم إلا لحاء عنبة أو عود شجرة فليمضغه

“Janganlah kalian berpuasa pada hari sabtu kecuali puasa yang diwajibkan atas kalian. Maka jika seseorang tidak mendapatkan kecuali kulit pohon anggur atau ranting maka kunyahlah itu.” (HR. ‘Abd bin Humaid dalam “Al-Muntahab” tahqiq Musthafa Al-‘Adawi hadits ke 507, Abu Daawud 2421, At-Tirmidzi 744, An-Nasaa’i dalam “Sunanul Kubra” 2/143 dan yang lainnya)

Para Ulama berselisih pendapat dalam menilai keabsahan hadits di atas. Sebagian Ulama mendha’ifkannya, sebagian yang lain menghasankannya. Bagi Ulama yang menilai dha’if membolehkan puasa sunnah di hari sabtu secara mutlak. Di antara mereka adalah:

1. Al-Imam Maalik, “Hadits ini dusta.” (Dinukil oleh Abu Daawud dalam sunannya hadits 2424)
2. Al-Imam Ahmad, “Hadits-hadits larangan puasa hari sabtu semuanya kontradiktif.” (“Iqtidhaa Shiraathil Mustaqiim” nukilan dari Al-Atsram – namun dalam Al-Mughni 3/166 Imam Ahmad membolehkan puasa hari Sabtu dengan catatan menyertakan dengan hari lainnya)
3. Dinukil dari Al-Imam Az-Zuhri pendha’ifan hadits tersebut. (Syarh Ma’aanil Atsar 2/81)
4. Abu Daawud, “Hadits ini mansuukh (terhapus hukumnya).” (Sunan Abi Daawud 2/806) Baca lebih lanjut

Keutamaan Puasa ‘Arafah


awanHadits tentang keutamaan puasa ‘Arafah

عن أبي قتادة رضي الله عنه قال سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم: عن صوم يوم عرفة قال: يكفر السنة الماضية والباقية

Dari Abu Qataadah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam pernah ditanya tentang puasa pada hari ‘Arafah, beliau bersabda, “Puasa ‘Arafah menggugurkan dosa-dosa satu tahun sebelumnya dan setelahnya.” (HR. Muslim 1162)

Makna “menggugurkan dosa-dosa satu tahun sebelumnya” yakni dosa-dosa kecil. Adapun tahun setelahnya dosa-dosanya diampuni oleh Allah jika ia menjauhi dosa-dosa besar. Sedangkan menurut sebagian Ulama lainnya mengatakan seseorang akan diberi kemudahan oleh Allah untuk menjauhi dosa-dosa, atau diberi tawfiq agar melakukan amalan yang dapat membersihkan dosa-dosanya Baca lebih lanjut

Takbir Mutlak Pada 10 Hari Awal Dzulhijjah


la-ilaha-illallahTanya: Apa yang dimaksud dengan takbir selama 10 hari pertama bulan Dzulhijjah? Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Utsaimin dalam Syarh beliau terhadap kitab Riyadhus Shalihin Al-Imam An-Nawawi.

Jawab: Na’am, bertakbir pada 10 hari permulaan bulan Dzulhijjah termasuk salah satu jenis amalan shaalih yang Allah cintai pada hari-hari tersebut. Takbir yang dimaksud adalah takbir mutlak yang bisa dilafalkan dalam segala kondisi, saat berdiri, duduk, berjalan, di atas kendaraan sejak tanggal 1 sampai tanggal 9 Dzulhijjah. Hal itu sebagaimana yang dicontohkan oleh para Shahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum. Allah berfirman:

“Supaya mereka berdzikir menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.” (Al-Hajj: 28)

Dari Sa’iid bin Jubair dari Ibn Abbaas, bahwa maksud “hari yang telah ditentukan” dalam ayat tersebut adalah tanggal 1 sampai 9 Dzulhijjah. (Fat-hul Baari 2/458 – Ibnu Mardawaih berkata “Sanadnya shahih”)

Dalam atsar yang lain dimulai tanggal 1 hingga tanggal 10 Dzulhijjah. Adapun lafal takbir yang dimaksud seperti ini Baca lebih lanjut

Puasa ‘Arafah Sesuai Wuquf atau Hilal?


logosalamTanya: Puasa Arafah jatuh pada hari apa Ustadz? Ada yang puasa mengikuti waktu wukuf berarti tanggal 3 Oktober, ada juga yang puasa tanggal 9 dzulhijah versi hilal kemenag. Mohon pencerahannya ustad jazakumullah khayr.

Jawab: Memang terjadi khilaaf (perselisihan pendapat) di antara Ulama dalam masalah itu. Para Ulama yang tergabung dalam “Lajnah Da’imah” menetapkan puasa ‘Arafah disesuaikan dengan waktu wuquf di ‘Arafah berdasarkan lahiriyyah hadits “Puasa HARI ‘Arafah….”, maka tahun ini berarti jatuh pada hari jum’at tanggal 3 Oktober. Pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh ‘Abdurrazzaaq Al-Badr. Sedangkan sebagian Ulama yang lain semisal Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin memandang, bahwa pokok permasalahan berpijak dari penentuan hilal masing-masing negeri. Berarti patokan utamanya adalah tanggal 9 Dzulhijjah (bertepatan dengan tanggal 4 Oktober) karena pada saat itu adalah hari wuquf di ‘Arafah. Jadi ‘illah (sebab utama) dalam masalah ini berporos pada penentuan hilal, bukan pada penamaan puasa ‘Arafah.

Maka yang raajih (kuat) -wallaahu a’lam- adalah pendapat yang terakhir yakni kembali kepada penentuan wilayah masing-masing negeri. Benar haji adalah ‘Arafah, akan tetapi penentuan waktu haji itu berpatokan pada hilal sebagaimana firman Allah:

“Dan mereka bertanya kepada engkau tentang hilal-hilal. Katakanlah, hilal-hilal itu adalah waktu bagi manusia dan ibadah haji.” (Al-Baqarah: 189)

Begitu pula ibadah lain yang masuk dalam keutamaan 10 hari permulaan bulan Dzulhijjah seperti penyembelihan tanggal 10 Dzulhijjah. Juga berpatokan dengan hilal sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam:

“Jika kalian melihat hilal dzulhijjah dan ingin menyembelih……” (HR. Muslim) Baca lebih lanjut

Sesat Tanpa Sadar, Mungkinkah?


gmbr“Katakanlah hai Muhammad, “Maukah kami beritahu kalian tentang keadaan orang-orang yang paling merugi amalannya? Mereka adalah orang-orang yang sesat upaya mereka dalam kehidupan dunia, dan mereka menyangka bahwa mereka sedang berbuat dengan sebaik-baik amalan.” (Al-Kahfi: 104)

Firman Allah, “Dan mereka menyangka bahwa mereka sedang berbuat dengan sebaik-baik amalan.” Ibnul Jauzi berkata, “Maknanya mereka beramal (dalam agama ini) tidak berdasarkan ilmu. Tetapi hanya berdasarkan perkiraan saja, dan juga berdasarkan baik sangka kepada tokoh yang diikutinya dengan membabi buta. Padahal para tokoh mereka itu telah menyadari mana yang haq dan mana yang batil. Namun karena ambisi kepemimpinanya, maka sang tokoh lebih mengutamakan kebatilan dan meninggalkan kebenaran.” (“Zaadul Masiir fi ‘Ilmit Tafsiir” – Surat Al-Kahfi 104)

Menurut ‘Ali bin Abi Thaalib yang menjadi sasaran ayat ini adalah orang-orang Khawaarij yang beribadah kepada Allah hanya berdasarkan sangkaannya sehingga tersesat dalam kebid’ahan dan menjadi anjing-anjing neraka. (Tafsir Ath-Thabari)

‘Ali bin Abi Thaalib, Adh-Dhahhaak dan yang lainnya berkata, “Ayat ini mencakup kelompok Haruriyyah (Khawaarij) sebagaimana mencakupi orang-orang Yahuudi dan Nashaara dan selain mereka..” Baca lebih lanjut

Cukupkah Merujuk Kepada Al-Qur’an & Al-Hadits Saja?


biografiTanya: Assalamu’alaikum pak Ustadz, apakah sebagai seorang muslim cukup mengatakan “Rujukan kami Al-Qur’an dan Al-Hadits saja”? Syukron jazakumulloh khoir.

Jawab: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Kalimat seperti itu bisa diungkapkan jika saudara hidup di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam. Adapun sepeninggal beliau, dimana banyak bermunculan fitnah pemahaman dan penyimpangan aqidah, maka kalimat yang tepat adalah “Merujuk kepada Al-Qur’an was Sunnah dengan pemahaman Salafusshaalih”. Hal itu sebagaimana yang diwasiatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam:

“Barangsiapa yang masih hidup sepeninggalku, sungguh ia akan melihat perselisihan yang banyak (perpecahan). Maka wajib atas kalian (ketika melihat perselisihan itu) berpegang teguh dengan sunnahku (cara beragamaku) dan sunnah para shahabatku Al-Khulafaa’ur Raasyidiin yang mendapat petunjuk setelahku. Gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi gerahammu.” (HR. Abu Daawud dan At-Tirmidzi dinilai hasan shahih oleh Syaikh Al-Albaani dalam “Shahihul Jaami'” 2546)

Maka yang dimaksud pemahaman Salafusshaalih adalah pemahaman para shahabat Nabi dalam menerjemahkan Al-Hadits juga penafsiran Rasulullah terhadap Al-Qur’an. Itulah jalur pemahaman yang telah pasti mendapat jaminan keselamatan dalam berislam dan memperjuangkan agama ini. Jadi sekalipun hadits itu shahih, namun tidak diterjemahkan sesuai dengan pemahaman Salafusshaalih, dapat dipastikan seseorang tak akan luput dari fitnah penyimpangan yang dinubuwwahkan dalam hadits di atas. Sebagaimana yang menimpa aliran Khawaarij, Qadariyyah, Syi’ah yang ditentang keras oleh para shahabat Nabi Baca lebih lanjut

Undian yang Halal


salamSyaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin, “Undian yang diperbolehkan jika si pembeli berada di antara dua kemungkinan, beruntung atau tidak dirugikan.” (Liqaa’ Al-Baabul Maftuuh)

Misal belanja di sebuah toko dengan minimal pembayaran Rp. 100.000,- seseorang akan mendapatkan satu kupon undian berhadiah. Dengan catatan pemilik toko tidak menaikkan harga barangnya. Maka jika si pembeli mendapatkan undian ia diuntungkan, dan jika tidak mendapatkannya ia tidak dirugikan. Inilah undian yang mubah. Sedangkan undian yang terlarang ialah undian yang mengandung unsur untung dan rugi atau untung-untungan. Baca lebih lanjut