Menyoal Ilmu Kalam dan Ilmu Filsafat


Assalamu’alaikum, apa yang dimaksud dengan ilmu kalam atau ilmu filsafat? Dan bagaimana hukum mempelajarinya? Jazakumullohu khairan  [tiarxxxxxx@yahoo.com]

Jawab: Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh. Ilmu kalam adalah suatu ilmu yang membahas perkara tauhid dengan metodologi filsafat. Hukum mempelajari ilmu kalam ini haram karena berimplikasi kepada superioritas akal dan kesombongan intelektual. Dengan kata lain akal lebih dikedepankan daripada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam memahami keberadaan Allah, perbuatan-Nya, nama-nama-Nya serta sifat-sifat-Nya yang Mahasempurna dan tidak serupa dengan-Nya sesuatupun.

Allah ta’ala berfirman:

يا أيها الذين آمنوا لا تقدموا بين يدي الله ورسوله واتقوا الله إن الله سميع عليم

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya, bertaqwalah kalian kepada Allah, karena sesungguhnya Dia Mahamendengar lagi Mahamengetahui.” [Al-Hujurat: 1]

Dalam konteks spesifikasi, ilmu kalam ataupun ilmu filsafat tidak mungkin diintegrasikan dengan ilmu agama, apalagi sampai dijadikan acuan dalam beragama. Berhubung metodologinya berbeda antara satu dengan yang lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam meletakkan satu prinsip dalam metodologi pemikiran ilmu-ilmu agama, sebagaimana sabda beliau:

و ما امرتكم به فأتوا منه مااستطعتم

“Apa yang aku perintahkan kepada kalian tentang suatu perkara, maka tunaikanlah dengan semampu kalian.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]  

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

Beliau juga bersabda, “Barangsiapa yang beramal dengan satu amalan yang bukan dari ajaran kami, maka tertolak.” [Muttafaqun ‘alaihi – Al-Bukhari 2697 dan Muslim 3243]

Maka segala sesuatu yang tidak diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam dalam perkara agama ini hukumnya tertolak, sesat dan batil. Lebih tegas lagi sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam:

“Barangsiapa yang menafsrikan Al-Qur’an dengan akal pikirannya semata, meskipun hasilnya kebetulan mencocoki kebenaran, maka dia tetap dikatakan salah (berdosa).” [HR. At-Tirmidzi]

Dikatakan berdosa karena metodologi atau cara pemahamannya yang salah, meskipun secara kebetulan hasilnya mencocoki kebenaran. Namun tidak berarti Islam datang untuk mengkarantinakan akal, akan tetapi meletakkan akal pada tempatnya sehingga dapat berfungsi secara proporsional.

Maka pantas jika para Ulama Salaf melarang kaum Muslimin mempelajari ilmu kalam karena dapat merusakkan akal dan agama seseorang. Di antaranya adalah Al-Imam As-Syaafi’i rahimahullah, beliau menyatakan:

“Sungguh seandainya salah seorang itu ditimpa dengan berbagai amalan yang dilarang oleh Allah selain dosa syirik, lebih baik baginya daripada ia mempelajari ilmu kalam.” [HR. Abu Nu'aim Al-Asfahaani dalam Hilyatul Awliyaa' 9/111]

Beliau juga menyatakan, ‘Seandainya manusia itu mengerti bahaya yang ada pada Ilmu Kalam dan hawa nafsu, niscaya ia akan lari daripadanya seperti lari dari singa.”

Fikri Abul Hasan

About these ads

2 thoughts on “Menyoal Ilmu Kalam dan Ilmu Filsafat

  1. Ping-balik: SEPUTAR ILMU KALAM DAN BAGAIMANA ULAMA SALAF MENYIKAPINYA | Kumpulan Artikel Ahlus Sunnah wal Jama'ah

  2. Ping-balik: Tentang Filsafat (3) | Al-Muntaqa

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s